Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
TRENDS.co.id, Jakarta – Indonesia tengah memasuki fase baru dalam pengembangan ekosistem uji klinik. Perubahan regulasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta semakin eratnya kolaborasi antara pemerintah, regulator, rumah sakit, akademisi dan industri membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu tujuan penting uji klinik global.
Momentum tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam IASMED Annual Meeting 2026 yang digelar di Hotel Aryaduta Menteng, Jakarta, pada 5 September 2026. Mengusung tema “Continuing the Momentum: Empowering Indonesia’s Clinical Trial Ecosystem” , pertemuan tahunan yang diselenggarakan The Indonesian Association for the Study of Medicinals (IASMED) ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem penelitian klinik.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. berpendapat, penguatan uji klinik merupakan langkah strategis karena proses tersebut menjadi salah satu pintu penting sebelum suatu produk kesehatan dapat digunakan secara luas.
“Uji klinis merupakan kunci dari semua produk-produk yang dibutuhkan oleh pasien,” ujar Taruna dalam sesi doorstop usai pembukaan IASMED Annual Meeting 2026.
Menurut Taruna, penguatan ekosistem uji klinik Indonesia setidaknya membutuhkan tiga hal utama. Pertama, membangun ekosistem yang melibatkan pemerintah, fasilitas kesehatan, rumah sakit, industri, peneliti dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Indonesia memiliki basis fasilitas kesehatan yang besar. Taruna menyebut terdapat sekitar 3.000 rumah sakit dan lebih dari 8.000 puskesmas yang menjadi bagian dari potensi ekosistem pelayanan kesehatan nasional.
Namun, ekosistem uji klinik tidak berhenti pada jumlah fasilitas. Kesiapan industri farmasi, peneliti, jenis penyakit yang akan diteliti, calon obat atau teknologi kesehatan, hingga aspek etik dan regulasi juga menjadi bagian yang harus dipersiapkan.
“Ekosistem semuanya ini harus ada aturan-aturannya. Mulai dari aturan klinis, bagaimana tata caranya, termasuk di dalamnya adalah aspek etik, karena ini pada manusia,” jelasnya.
Fondasi kedua adalah pengembangan ilmu dan kapasitas pelaksana uji klinik. Sementara yang ketiga adalah menciptakan lingkungan yang mampu menarik industri farmasi, baik nasional maupun global, untuk melakukan penelitian di Indonesia.
Hal ini penting karena uji klinik membutuhkan investasi besar. Dengan menyediakan lingkungan regulasi, fasilitas, sumber daya manusia dan subjek penelitian yang memadai, Indonesia diharapkan semakin menarik bagi perusahaan farmasi dan bioteknologi untuk menjadikan Indonesia sebagai lokasi penelitian.
Penguatan uji klinik juga memiliki dampak langsung terhadap akses masyarakat terhadap inovasi kesehatan.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Dr. Dra. Lucia Rizka Andalucia, Apt., M.Pharm., MARS. menilai pelaksanaan uji klinik di Indonesia dapat membuat masyarakat memperoleh akses lebih cepat terhadap produk kesehatan baru apabila produk tersebut telah menunjukkan kualitas dan keamanan yang dibutuhkan.
Ia mencontohkan pengalaman selama pandemi ketika Indonesia melakukan uji klinik vaksin. Menurutnya, keberadaan kapasitas uji klinik di dalam negeri membantu Indonesia mendapatkan akses terhadap vaksin secara lebih cepat.
Perspektif tersebut membuat ekosistem uji klinik tidak hanya relevan bagi industri farmasi, tetapi juga bagi kemandirian kesehatan nasional.
Jika Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk kesehatan yang dikembangkan di negara lain, peluang untuk membangun kemampuan inovasi dalam negeri akan lebih terbatas. Sebaliknya, semakin kuat kapasitas penelitian klinik, semakin besar peluang Indonesia terlibat dalam pengembangan produk kesehatan sejak tahap penelitian.
Salah satu tantangan yang masih perlu dijawab adalah pemahaman masyarakat. Tidak sedikit orang yang masih menyamakan uji klinik dengan “percobaan” terhadap manusia.
Rizka menjelaskan bahwa proses pengembangan obat atau vaksin memiliki tahapan yang berbeda. Sebelum masuk ke uji klinis pada manusia, suatu kandidat produk terlebih dahulu melalui tahap praklinik untuk menilai berbagai aspek keamanan dan karakteristiknya.
“Kalau sudah uji klinik, itu sudah pada manusia yang sebelumnya keamanan untuk digunakan pada manusia sudah dinilai. Tinggal kita melihat bagaimana efektivitasnya,” jelasnya.
Karena dilakukan pada manusia, perlindungan partisipan menjadi aspek fundamental. Uji klinik juga harus melalui mekanisme etik dan pengawasan yang ditetapkan sesuai ketentuan.
Menurutnya, pada kondisi tertentu, uji klinik bahkan dapat memberikan alternatif bagi pasien yang sudah tidak memiliki banyak pilihan terapi.
Rizka mencontohkan pasien kanker yang tidak lagi memiliki alternatif pengobatan. Keterlibatan dalam uji klinik terhadap terapi baru dapat membuka kemungkinan adanya pilihan terapi yang sebelumnya belum tersedia.
“Jadi, suatu harapan buat pasien-pasien yang sudah tidak ada alternatif pengobatannya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan ekosistem ini juga bergantung pada keterlibatan masyarakat. Karena itu, patient engagement menjadi salah satu topik penting dalam IASMED Annual Meeting 2026.
“Uji klinik tanpa menghidupkan komunitas atau masyarakat, masyarakat sehat untuk uji klinik vaksin maupun pasien untuk uji klinik obat, itu tidak akan ada,” ujar Rizka.
Menurutnya, uji klinik tidak seharusnya hanya dipandang sebagai mekanisme untuk menghasilkan produk komersial. Lebih jauh, ekosistem uji klinik merupakan bagian dari upaya mempercepat akses masyarakat terhadap obat, vaksin dan teknologi kesehatan yang inovatif.
“Kalau kita tidak mampu melakukan uji klinik dengan baik, kita akan ketinggalan terus. Kita hanya akan menjadi pasar buat obat-obatan. Kita tidak bisa menjadi inovator atau pengembang obat-obatan dan vaksin,” tegasnya.
Karena itu, peningkatan kemampuan pusat uji klinik di rumah sakit harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi peneliti dan pemahaman masyarakat.
Salah satu contoh konkret kebutuhan terhadap penelitian klinik di Indonesia adalah tuberkulosis (TB). Rizka menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi beban TB yang besar. Pengembangan vaksin baru menjadi salah satu bagian penting dalam strategi eliminasi penyakit tersebut.
Menurutnya, dunia hingga kini belum memiliki vaksin TB yang dapat menjadi solusi untuk kebutuhan eliminasi secara menyeluruh. Karena itu, Indonesia ikut terlibat dalam pengembangan kandidat vaksin TB.
Ia menyebut terdapat beberapa kandidat yang sedang dikembangkan dengan keterlibatan Indonesia. Salah satunya merupakan pengembangan bersama GSK dan Gates Foundation yang telah memasuki fase 3. Selain itu, terdapat kandidat lain yang dikembangkan melalui kolaborasi nasional dan masih berada pada fase awal pengujian.
Pengembangan obat TB juga terus dilakukan untuk mencari terapi yang lebih efektif, dengan efek samping lebih rendah, jumlah pil yang lebih sedikit, serta durasi pengobatan yang lebih singkat.
“Semua inovasi-inovasi ini terus kita cari,” kata Rizka.
Penguatan kapasitas domestik menjadi semakin relevan karena Indonesia ingin meningkatkan posisinya dalam jejaring penelitian kesehatan global.
IASMED selama ini menjalankan berbagai program peningkatan kompetensi, termasuk pelatihan Good Clinical Practice (GCP) . Hingga kini, lebih dari 7.000 orang telah memiliki sertifikat GCP dari IASMED.
Rangkaian IASMED Annual Meeting 2026 juga mencakup pelatihan Advanced Good Clinical Practice for Clinical Research Professional , Protocol Development , dan Clinical Research Unit Development .
Pada tingkat internasional, IASMED memfasilitasi keterlibatan delegasi gabungan Indonesia dalam Indonesia Town Hall pada Global DIA Annual Meeting 2025 dan 2026 di Amerika Serikat. Delegasi tersebut melibatkan Kementerian Kesehatan, BPOM, INA-CRC dan peneliti sentra uji klinik.
Kolaborasi global kembali diperkuat melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IASMED dan Drug Information Association (DIA) untuk mendukung pengembangan kapasitas dan promosi ekosistem uji klinik Indonesia di tingkat internasional.
IASMED juga untuk pertama kalinya memberikan Clinical Research Center Excellence Award sebagai apresiasi terhadap pusat uji klinik yang menunjukkan kualitas dan kontribusi signifikan bagi perkembangan penelitian klinik di Indonesia.
Bagi Indonesia, tantangannya kini bukan hanya menarik lebih banyak uji klinik global, tetapi membangun ekosistem yang mampu mempertahankan kualitas penelitian dalam jangka panjang.
Regulasi yang adaptif, fasilitas penelitian yang siap, peneliti yang kompeten, industri yang aktif berinvestasi, serta partisipasi masyarakat yang memahami manfaat dan risikonya harus berjalan bersama.
Jika fondasi tersebut terus diperkuat, uji klinik dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat akses masyarakat terhadap inovasi kesehatan sekaligus mengubah posisi Indonesia dari sekadar pasar menjadi bagian aktif dari rantai pengembangan obat, vaksin dan teknologi kesehatan global.