Smile Pro dan Presbyond: Hanya 8 Detik Mengubah Penglihatan Kembali Normal

ilustrasi AI
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

SMILE Pro dan Presbyond adalah dua teknologi koreksi penglihatan termutakhir yang dimiliki Mayapada Eye Center (MEC) dengan rekayasa optik dan laser hanya membuat waktu hitungan detik.

Trends.co.id – Dalam dunia kedokteran, ada momen-momen ketika teknologi tidak hanya mempercepat sebuah prosedur, tetapi benar-benar mengubah cara kita memandang persoalan kesehatan secara mendasar. Koreksi penglihatan adalah salah satu contohnya. Apa yang dulu memerlukan waktu pemulihan panjang dan risiko ketidaknyamanan, kini bisa diselesaikan dalam hitungan detik – sebuah lompatan yang lahir dari presisi rekayasa laser generasi terbaru.

Dalam sesi edukasi bertajuk “Longevity Era: Investing in Vision for a Better Quality of Life” di Jakarta pada Sabtu (20/6) Mayapada Eye Centre (MEC) memperkenalkan dua teknologi koreksi penglihatan andalan mereka: SMILE Pro dan PRESBYOND. Di balik nama yang terdengar sederhana ini, tersimpan rekayasa optik dan laser yang menjadi jawaban atas dua tantangan kesehatan mata yang sama sekali berbeda asal-usulnya – satu lahir dari kebiasaan digital, satu lagi dari proses penuaan yang tak terelakkan.

Ketika Laser Bekerja Lebih Cepat dari Kedipan Mata

Bayangkan sebuah prosedur medis yang rampung dalam waktu yang bahkan lebih singkat dari satu tarikan napas. Itulah yang ditawarkan SMILE Pro – teknologi koreksi penglihatan untuk miopia dan astigmatisme yang hanya membutuhkan delapan detik untuk menyelesaikan tindakan lasernya.

Kecepatan ini bukan sekadar angka pemasaran, melainkan hasil dari penggunaan laser femtosecond generasi terbaru. Teknologi ini bekerja dengan membuat sayatan presisi tinggi di kedalaman kornea yang telah disesuaikan dengan kondisi setiap pasien, membentuk lapisan jaringan kecil yang disebut lentikul – bagian kornea yang kemudian diangkat melalui sayatan berukuran kurang dari 4 milimeter saja.

Dengan mengangkat lentikul ini, kelengkungan kornea berubah sedemikian rupa sehingga cahaya yang masuk dapat jatuh tepat pada retina, menghasilkan penglihatan yang lebih jernih tanpa distorsi.

Yang membedakan SMILE Pro dari metode laser vision correction sebelumnya, seperti LASIK, terletak pada pendekatan invasifnya. LASIK memerlukan pembentukan flap dengan sayatan yang jauh lebih besar, sekitar 8 hingga 10 milimeter, sebelum laser dapat bekerja membentuk ulang kornea di baliknya.

SMILE Pro, dengan sayatannya yang jauh lebih kecil, menjadikan prosedur ini bersifat minimal invasif – sebuah pendekatan yang sejalan dengan tren kedokteran modern: hasil maksimal dengan intervensi seminimal mungkin pada jaringan tubuh.

Teknologi ini juga dilengkapi dengan Oculign System, sebuah sistem pemandu yang memastikan akurasi dan stabilitas tindakan selama prosedur berlangsung. Dokter Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, menjelaskan bahwa kombinasi presisi dan kecepatan inilah yang menjadikan SMILE Pro relevan bagi gangguan refraksi yang kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif.

“Miopia dan astigmatisme semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif seiring tingginya penggunaan perangkat digital sejak usia dini,” jelasnya, menggambarkan bagaimana kebutuhan akan solusi yang cepat dan presisi menjadi semakin mendesak di tengah gaya hidup yang serba digital.

20 Detik untuk Mengatasi Apa yang Tak Bisa Dihindari Waktu

Smile Pro dan Presbyond: Ketika Rekayasa Optik Bertemu Kebutuhan Hidup Aktif_trends.co.id
Dok. trends.co.id

Jika SMILE Pro menjawab tantangan akibat kebiasaan, PRESBYOND hadir untuk menjawab tantangan yang datang dari sesuatu yang tak bisa kita hindari sama sekali: waktu itu sendiri. Presbiopia, atau penurunan kemampuan fokus mata untuk melihat objek dekat, adalah proses alami yang mulai muncul pada usia 40 tahun – dan teknologi inilah yang dirancang untuk menjawabnya, dengan waktu tindakan sekitar 20 detik.

Yang membuat PRESBYOND menarik dari sisi teknologi adalah kemampuannya menggabungkan koreksi untuk berbagai jarak penglihatan sekaligus – jauh, menengah, dan dekat – dalam satu profil laser yang disesuaikan secara personal untuk setiap pasien. Berbeda dengan kacamata progresif yang membagi area lensa untuk fungsi penglihatan berbeda, PRESBYOND mengkalibrasi kedua mata pasien secara terpadu, mengombinasikan koreksi minus, silinder, plus jauh, maupun plus dekat ke dalam satu profil laser tunggal yang diimplementasikan pada kornea.

Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K), menjelaskan relevansi teknologi ini di tengah pergeseran gaya hidup masyarakat. “Di era longevity, banyak individu ingin tetap aktif hingga usia lanjut. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan fokus mata akan menurun yang dikenal sebagai presbiopia. Salah satu solusi terkini yaitu melalui teknologi PRESBYOND yang dapat membantu pasien mengurangi ketergantungan kacamata untuk penglihatan jauh, menengah dan dekat,” ujarnya.

Teknologi secanggih apa pun pada akhirnya harus dibuktikan melalui pengalaman nyata penggunanya. Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Gia Pratama, membagikan pengalamannya setelah menjalani SMILE Pro. “Sebagai dokter dengan aktivitas harian yang padat dan dinamis, kenyamanan penglihatan sangat berpengaruh terhadap produktivitas saya. Setelah menjalani SMILE Pro, banyak hal terasa lebih praktis karena saya dapat beraktivitas tanpa bergantung pada kacamata. Bagi saya, ini tentang melihat lebih jelas, bekerja lebih nyaman, dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik,” ungkapnya – sebuah testimoni yang menggambarkan bagaimana presisi teknologi laser pada akhirnya bermuara pada hal yang jauh lebih manusiawi: kenyamanan menjalani hari.

Cara Kerja SMILE PRO dan PRESBYOND

Satu hal penting yang perlu dipahami dari kedua teknologi ini: secanggih apa pun laser femtosecond bekerja, ia tidak menghentikan proses biologis alami mata. SMILE Pro dan PRESBYOND mengoreksi kondisi mata menuju titik ideal yang bisa dicapai pada saat tindakan dilakukan – namun mata yang telah dikoreksi tetap akan mengalami proses penuaan sebagaimana mata pada umumnya. Presbiopia tetap akan muncul sesuai perjalanan usia, dan risiko katarak tetap mengikuti faktor genetik serta gaya hidup masing-masing individu.

Karena itulah, sebelum menjalani salah satu dari kedua prosedur ini, skrining kondisi sistemik tubuh menjadi tahapan krusial yang tidak bisa dilewatkan. Faktor seperti kontrol gula darah dan tekanan darah turut memengaruhi hasil tindakan, kecepatan penyembuhan, hingga keawetan hasil koreksi dalam jangka panjang – sebuah pengingat bahwa teknologi medis paling mutakhir sekalipun tetap bekerja dalam kerangka kondisi biologis manusia yang unik bagi setiap individu.

Ada sesuatu yang menggugah dari fakta bahwa teknologi yang bekerja dalam hitungan detik ini lahir dari riset dan rekayasa optik yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk disempurnakan. Delapan detik untuk SMILE Pro, dua puluh detik untuk PRESBYOND – angka-angka kecil ini menyimpan kompleksitas ilmu pengetahuan yang luar biasa, dipadatkan menjadi pengalaman yang nyaris instan bagi pasiennya.

Namun di balik kecanggihan femtosecond laser dan sistem pemandu presisi seperti Oculign, yang sesungguhnya sedang ditawarkan bukanlah sekadar kecepatan, melainkan kembalinya kebebasan – kebebasan dari ketergantungan kacamata, kebebasan untuk menjalani aktivitas tanpa hambatan visual, dan pada akhirnya, kebebasan untuk menikmati setiap babak kehidupan dengan kejernihan yang utuh. Di situlah teknologi menemukan maknanya yang paling dalam: bukan sebagai pameran kecanggihan semata, melainkan sebagai jembatan menuju kualitas hidup yang lebih baik, detik demi detik.

Berita Terkait :