Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
TRENDS.co.id, Jakarta – Dunia estetika terus mengalami evolusi. Jika sebelumnya berbagai perawatan kecantikan lebih banyak berfokus pada mengatasi tanda-tanda penuaan yang terlihat di permukaan, kini perhatian mulai bergeser ke pendekatan yang lebih mendasar, yaitu mendukung kemampuan alami kulit untuk memperbaiki dan memperbarui dirinya sendiri atau regenerasi kulit.
Tren tersebut menjadi salah satu topik utama dalam acara REVOK50 Skinfluencer Advocacy yang digelar di Tangerang, Jumat (13/6). Mengusung tema “Exploring REVOK50 2.0: Beyond Bio-Stimulation” , acara ini mempertemukan dokter estetika, pelaku industri, dan para skinfluencer untuk mendiskusikan perkembangan terbaru dalam regenerative aesthetics atau estetika regeneratif. Pendekatan ini dinilai menjadi babak baru dalam dunia perawatan kulit karena tidak hanya berfokus pada penampilan luar, tetapi juga pada proses biologis yang mendukung kesehatan kulit dalam jangka panjang.
Dalam kesempatan tu, dr Imelda Tjoe, AAAM (USA), Mbiomed (AAM), MHum, Mkes, menyampaikan agar masyarakat sebagai konsumen harus kritis dalam memilih produk serta prosedur peremajaan atau regenerasi kulit. Hal itu guna menghindari risiko efek samping produk serta malapraktik. Imelda menekankan pentingnya mencermati integrasi antra landasan berbasis lmiah (scientific evidence) dan pengalaman klinis yang legal dalam penggunaan produk maupun prosedur kecantikan yang aman dan efektif.
“Konsumen tidak boleh tergiur klaim sebelum memastikan produk rsebut memiliki uji klinis yang jelas,” tutur pemilik Kliniix Slimm Medan di Hotel Episode, Gading Serpong Tangerang, Sabtu (13/6).
Menurut Chairman Redo Marketing Indonesia, David Teh, masa depan industri estetika tidak lagi hanya berbicara mengenai perbaikan tampilan kulit semata.
“Melalui REVOK50 Skinfluencer Advocacy, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang menggabungkan perspektif ilmiah, pengalaman klinis, serta suara dari para advokat kecantikan untuk memperluas pemahaman mengenai regenerative aesthetics. Kami percaya bahwa masa depan estetika tidak hanya tentang memperbaiki tampilan kulit, tetapi juga mendukung proses regenerasi yang berkelanjutan melalui pendekatan berbasis bukti ilmiah,” ujarnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pasien yang tidak hanya menginginkan perubahan instan, tetapi juga hasil yang terlihat alami dan bertahan lebih lama. Perubahan preferensi ini mendorong munculnya berbagai inovasi yang berfokus pada peningkatan kualitas kulit dari dalam.
Konsep regenerasi kulit sendiri mengacu pada upaya mendukung proses alami tubuh dalam memperbaiki jaringan kulit yang mengalami penurunan fungsi akibat penuaan, paparan sinar ultraviolet, polusi, maupun faktor gaya hidup. Alih-alih sekadar menyamarkan masalah kulit, pendekatan regeneratif berusaha mengoptimalkan kondisi kulit agar mampu bekerja lebih baik secara alami. Karena itulah, istilah seperti skin quality, skin health, hingga regenerative aesthetics semakin sering muncul dalam berbagai diskusi ilmiah di bidang estetika.
National Sales Manager REVOK50, Hengki Manaek, mengatakan bahwa edukasi menjadi bagian penting dalam memperkenalkan pendekatan baru ini kepada tenaga medis maupun masyarakat.
“REVOK50 terus berupaya menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan praktik estetika modern. Melalui program advocacy seperti ini, kami berharap dapat memperkuat pemahaman mengenai konsep Beyond Bio-Stimulation serta mendukung dokter dalam memberikan hasil yang optimal dan berorientasi pada kepuasan pasien,” kata Hengki.
Salah satu fokus utama dalam acara tersebut adalah pentingnya landasan ilmiah dalam setiap inovasi estetika. Berbagai sesi diskusi membahas evidence-based practice, pengalaman klinis dokter, tingkat kepuasan pasien, hingga perkembangan teknologi skin booster yang kini semakin mengarah pada pendekatan regeneratif.
Acara ini juga menghadirkan sejumlah dokter estetika dari berbagai kota di Indonesia yang berbagi pengalaman mengenai penerapan konsep regenerasi kulit dalam praktik sehari-hari. Diskusi mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilihan terapi yang tepat, evaluasi hasil klinis, hingga pentingnya edukasi pasien agar memiliki ekspektasi yang realistis terhadap hasil perawatan.
Selain dokter dari berbagai klinik estetika ternama, sesi internasional juga menghadirkan Valeriia Minchenko, MD, yang membagikan pengalaman global mengenai perkembangan regenerative aesthetics di berbagai negara. Menurut para praktisi, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah meningkatnya arus informasi di media sosial yang sering kali membuat masyarakat lebih fokus pada hasil instan dibandingkan proses yang mendasarinya.
Padahal, keberhasilan sebuah perawatan tidak hanya diukur dari perubahan visual dalam waktu singkat, tetapi juga dari peningkatan kualitas kulit secara keseluruhan dalam jangka panjang.
Meningkatnya minat terhadap regenerasi kulit menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin memahami pentingnya kesehatan kulit sebagai bagian dari kualitas hidup. Tren ini juga mencerminkan pergeseran paradigma dalam dunia kecantikan, dari sekadar memperbaiki penampilan menuju pendekatan yang lebih holistik dan berbasis sains.
Melalui kolaborasi antara industri, tenaga medis, dan komunitas, edukasi mengenai regenerative aesthetics diharapkan dapat terus berkembang sehingga masyarakat memiliki akses terhadap informasi yang lebih akurat sebelum memilih prosedur estetika.
Dengan semakin banyaknya inovasi yang mengedepankan bukti ilmiah dan keselamatan pasien, konsep regenerasi kulit diprediksi akan menjadi salah satu fokus utama dalam perkembangan industri estetika modern dalam beberapa tahun mendatang.