Kasus Super Flu di Amerika Serikat Memburuk, Pakar Soroti 5 Hal Penting

peningkatan kasus super flu di Amerika Serikat. (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta – Lonjakan kasus super flu di Amerika Serikat kembali menjadi sorotan dunia. Dalam laporan terbaru yang dirilis awal Januari 2026, situasi influenza musiman di Negeri Paman Sam menunjukkan perburukan signifikan—mulai dari peningkatan angka kematian hingga melonjaknya pasien yang harus dirawat di rumah sakit. Data ini menjadi pengingat penting bahwa ancaman penyakit menular masih sangat nyata, bahkan di negara dengan sistem kesehatan maju.

Pemantauan ini disampaikan oleh Prof. Tjandra Yoga Aditama berdasarkan laporan rutin mingguan dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, yang secara konsisten mempublikasikan perkembangan penyakit menular kepada publik dan komunitas global.

Laporan Terbaru CDC: Lima Indikator Perburukan Super Flu di Amerika Serikat

Menurut Prof. Tjandra, laporan CDC tertanggal 5 Januari 2026 (dengan data hingga 27 Desember 2025) menunjukkan perbandingan kasus flu yang cukup mencolok dibanding laporan sebelumnya pada 30 Desember 2025 (data hingga 20 Desember 2025). Melalui pesan tertulis dari Prof Tjandra yang diterima redaksi Trends pada Senin, 6 Januari 2026, ada lima perburukan utama kasus super flu di Amerika Serikat yang patut dicermati.

Pertama, lonjakan angka kematian.
Jumlah kematian akibat influenza meningkat drastis dari 3.100 kematian menjadi 5.000 kematian hanya dalam rentang satu minggu pelaporan.

Kedua, peningkatan pasien rawat inap.
Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit dalam seminggu melonjak dari 19.053 menjadi 33.301 pasien.

Ketiga, kenaikan kasus rawat jalan.
CDC mencatat peningkatan kunjungan rawat jalan akibat influenza sebesar 8,2 persen dibandingkan laporan minggu sebelumnya.

Keempat, meluasnya wilayah dengan tingkat influenza tinggi.
Pada laporan sebelumnya, terdapat 37 wilayah jurisdiksi di Amerika Serikat yang masuk kategori influenza tinggi atau sangat tinggi. Angka ini naik menjadi 48 wilayah pada laporan terbaru.

Kelima, status influenza dinyatakan “moderately severe”.
CDC menyebut musim influenza 2025–2026 di Amerika Serikat sebagai moderately severe, dengan estimasi sekitar 11 juta kasus dan 120.000 perawatan di rumah sakit.

Super Flu A H3N2 dan Ancaman Musiman yang Tidak Bisa Diremehkan

Super flu yang dimaksud merujuk pada influenza A H3N2 subclade K, varian yang dikenal memiliki tingkat penularan tinggi dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan individu dengan penyakit penyerta.

“CDC Amerika Serikat secara teratur memberi laporan mingguan ke rakyatnya dan juga ke dunia,” ujar Tjandra Yoga Aditama.

Ia menambahkan, keterbukaan data dan konsistensi surveilans menjadi kunci penting dalam menghadapi wabah penyakit menular, termasuk influenza.

Pelajaran Penting bagi Indonesia dan Negara Lain

Prof. Tjandra menekankan bahwa praktik pelaporan rutin seperti yang dilakukan CDC seharusnya menjadi inspirasi bagi negara lain, termasuk Indonesia.

“Tentu akan baik kalau kita juga mendapat laporan surveilans mingguan berbagai penyakit yang ada di negara kita,” kata Prof. Tjandra, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor di Griffith University Australia.

Dengan meningkatnya mobilitas global dan perubahan pola penyakit pascapandemi, kewaspadaan terhadap super flu di Amerika Serikat bukan hanya isu lokal, melainkan alarm global bagi sistem kesehatan dunia.

Super Flu di Indonesia

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mendeteksi 62 kasus super flu di 8 provinsi pada 31 Desember 2025. Kemenkes memastikan kasus infeksi akibat virus A H2N3 subclade K ini masih terkendali.

Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A H3N2 subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” ungkap Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, Prima Yosephine, dikutip dari rilis Kemenkes.

Kemenkes menegaskan akan terus memperkuat surveilans, pelaporan, dan kesiapsiagaan untuk merespons dinamika influenza ke depan.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan. Vaksin influenza terbukti efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian.

Berita Terkait :