Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
Trends.co.id, Jakarta – Bagi banyak individu, libur akhir tahun 2025 terasa seperti hadiah setelah bekerja keras sepanjang tahun. Tiket liburan, agenda kumpul keluarga, hingga wishlist kecil yang ingin diwujudkan—semuanya menggoda. Namun tanpa perencanaan yang tepat, euforia liburan justru bisa berubah menjadi stres finansial saat kalender berganti tahun.
Dengan mengatur keuangan dan merencanakan libur akhir tahun secara cerdas, Anda tetap bisa menikmati momen istimewa bersama orang terdekat—tanpa utang, tanpa stres, dan tanpa rasa bersalah di awal tahun baru.
Registered Financial Planner dari Financial Planning Standard Board (FPSB) Indonesia Deni Winoto menyampaikan, ada prinsip sederhana mengatur keuangan yang bisa diterapkan agar liburan tetap menyenangkan tanpa mengganggu cashflow.
Langkah pertama dalam mengatur keuangan saat libur akhir tahun 2025 adalah mengatur rencana liburannya terlebih dahulu. Tidak harus selalu bepergian jauh atau mengeluarkan biaya besar, yang terpenting adalah kejelasan tujuan dan aktivitas.

“Biasanya dari jauh-jauh hari sudah terbayang mau ke mana atau mau mengisi liburan dengan apa. Setiap orang punya preferensi yang berbeda-beda, entah ke alam atau kegiatan yang lain,” ujar Deni Winoto, dihubungi Selasa (23/12).
Dengan rencana yang jelas, Anda bisa memperkirakan kebutuhan biaya sejak awal. Apakah liburan akan diisi dengan perjalanan ke luar negeri/kota, staycation, pulang kampung, atau aktivitas sederhana di dalam kota bersama keluarga.
Setelah rencana liburan terbentuk, tahap berikutnya adalah menyiapkan bujet. Idealnya, dana liburan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bukan hanya mengandalkan pemasukan di bulan liburan.
Deni menjelaskan bahwa dalam pengelolaan keuangan bulanan, terdapat metode pembagian yang bisa menjadi acuan, yakni dengan sistem 40-30-20-10.
“Biasanya 40 persen penghasilan digunakan untuk kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi, dan tagihan. Lalu 30 persen untuk keinginan, termasuk liburan dan hobi. Sebanyak 20 persen untuk tabungan dan investasi, dan 10 persen untuk amal, sedekah, atau dana sosial lainnya,” jelasnya.
Dalam skema ini, dana liburan sebaiknya diambil dari porsi 30 persen untuk keinginan, bukan dari pos lain.
Bagi mereka yang belum sempat menyiapkan dana liburan sebelumnya dan hanya mengandalkan pemasukan bulan berjalan, prinsipnya tetap sama: jangan melebihi batas bujet yang sudah ditentukan.

“Kalau tidak ada rencana sebelumnya dan hanya mengandalkan pemasukan di bulan ini, prinsipnya adalah jangan melebihi 30 persen penghasilan. Kalau lebih dari itu, akan mengganggu cashflow atau pos keuangan lainnya,” tegas Deni.
Mengatur keuangan dengan disiplin membantu menjaga keseimbangan finansial, terutama agar kewajiban rutin sebelum dan setelah liburan tetap terpenuhi tanpa tekanan.
Godaan terbesar saat libur akhir tahun adalah kemudahan berutang, baik melalui pinjaman pribadi, kartu kredit, maupun paylater. Namun Deni menyarankan bahwa hal ini sebaiknya dihindari.
“Untuk liburan tidak disarankan meminjam, berutang, atau menggunakan paylater. Setiap keputusan pengeluaran memiliki konsekuensi,” ujarnya.
Utang untuk liburan berpotensi menimbulkan beban baru setelah liburan usai. Alih-alih membawa kebahagiaan, kondisi ini justru bisa memicu stres finansial di awal tahun.
Mengatur keuangan ketika dana terbatas bukan berarti harus mengorbankan kualitas liburan. Dengan kreativitas dan riset yang tepat, liburan murah meriah tetap bisa terasa menyenangkan dan bermakna.
“Kita bisa mengulik informasi liburan gratis atau murah meriah. Di Jakarta saja banyak spot yang bisa jadi pilihan supaya tidak bosan di rumah,” kata Deni.

Bagi keluarga dengan anak-anak, liburan juga bisa diisi dengan aktivitas edukatif.
“Untuk yang punya anak kecil, bisa memilih tempat wisata edukatif agar anak mengenal hal-hal baru yang positif,” tambahnya.
Saat ini, informasi dan ulasan destinasi wisata sangat mudah ditemukan. Dengan rajin mencari referensi, Anda bisa mendesain liburan yang sesuai bujet namun tetap berkesan.
Tujuan utama dari mengatur keuangan saat libur akhir tahun adalah menjaga kesehatan finansial secara menyeluruh. Deni mengingatkan agar bujet liburan tidak sampai mengganggu kewajiban rutin.
“Sedapat mungkin bujet liburan tidak mengganggu cashflow dan kewajiban bulanan agar tidak membuat stres pasca liburan dan tidak menimbulkan utang baru,” ujarnya.
Liburan seharusnya menjadi momen untuk mengisi ulang energi, bukan awal dari masalah keuangan yang berkepanjangan.