Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
TRENDS.co.id, Sentul – Di antara barisan pinus yang rindang, sebuah gerakan baru bertumbuh, bukan sekadar kafe, melainkan manifesto bahwa kopi Indonesia layak berdiri sejajar dengan nama-nama besar dunia.
Bayangkan memulai pagi dengan segelas kopi arabika lokal, aroma pinus menyeruak dari celah daun yang bergoyang pelan, dan koneksi internet 700 Mbps siap menemani sesi kerja, Trendies. Ini bukan di Kyoto, juga bukan di Melbourne, melainkan Sentul, Bogor. Dan ini baru awal dari cerita yang lebih besar.
PT Warisan Kopi Indonesia secara resmi membuka gerai perdananya di Jalan Gunung Batu, Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, pada Selasa, 5 Mei 2025. Grand opening Warisan Kopi Sentul ini bukan seremoni biasa. Dihadiri oleh Bupati Bogor Rudi Susmanto, perwakilan Komisi III DPR RI Sudin Hendry Rom, akademisi Universitas Terbuka, hingga sejumlah pelaku usaha terkemuka, momentum ini menandai sesuatu yang lebih dari sekadar peluncuran kafe baru.
Founder Warisan Kopi Hendri Long dan Jenderal (Purn) TNI DR. Moeldoko selaku mitra strategis — menegaskan bahwa ini merupakan upaya nyata untuk mendongkrak martabat kopi Indonesia di mata dunia.
Salah satu hal yang membedakan Warisan Kopi dari ratusan kafe estetik yang bermunculan belakangan ini adalah komitmennya terhadap pemberdayaan ekonomi lokal yang terukur dan konkret.

UMKM kuliner, mulai dari soto, bakso, hingga bubur, diintegrasikan langsung ke dalam ekosistem kafe, bukan sekadar ditempatkan di sudut sebagai pelengkap. Setiap mitra UMKM melewati proses kurasi ketat. Standar kebersihan, metode memasak, dan kelayakan produk menjadi syarat mutlak sebelum bergabung. Warisan Kopi bahkan tak segan akan membekali mitra dengan peralatan produksi untuk mengimbangi lonjakan permintaan yang signifikan.
Hasilnya berbicara sendiri. Dari rata-rata menjual 30–50 porsi per hari, pelaku UMKM yang bergabung kini mampu melayani lebih dari 500 porsi setiap harinya.
“Ini bukan sekadar konsep di atas kertas. Bukti nyatanya ada di sini — pelaku UMKM yang tadinya menjual 30 sampai 50 porsi sehari, setelah bergabung dengan kami kini bisa melayani lebih dari 500 porsi. Yang tadinya mikro bisa naik kelas menjadi kecil, yang kecil bisa menuju menengah. Itulah kolaborasi yang sesungguhnya,” ungkap Komisaris Warisan Kopi, Jenderal (Purn) TNI Dr. Moeldoko, saat grand opening berlangsung.
Di era ketika banyak pengembang rela mengorbankan ruang hijau demi efisiensi lahan, Warisan Kopi memilih arah berbeda.

Di atas lahan seluas 1,4 hektare yang dipenuhi pohon pinus alami, koefisien dasar bangunan hanya menyentuh 7,4% dari total luas lahan. Artinya, 92,6% lahan dibiarkan hidup dan bernapas sebagaimana adanya. Tidak satu pun pohon yang ditebang dalam proses pembangunan. Pohon-pohon pinus yang sudah berdiri puluhan tahun itu justru menjadi karakter utama destinasi ini — sebuah kemewahan organik yang tidak bisa direplikasi dengan uang berapa pun.
“Pohon pinus ini bukan penghalang pembangunan — ini adalah aksesori alam yang tak ternilai harganya. Sebanyak apapun uang kita, kita tidak bisa membeli atau mengganti pohon pinus yang sudah berdiri puluhan tahun ini,” demikian filosofi yang dipegang teguh oleh manajemen.
Komitmen keberlanjutan ini juga mengalir ke rantai pasokan. Dengan komposisi 70% arabika dan 30% robusta dari bahan baku lokal, Warisan Kopi telah memulai pengembangan perkebunan sendiri di Sumatera, dengan rencana ekspansi ke Kalimantan dan Sulawesi menggunakan pola inti-plasma yang memberdayakan petani lokal di sekitar kebun.
Warisan Kopi di Sentul didesain untuk menjawab kebutuhan nyata generasi yang tidak lagi memisahkan antara bekerja dan menikmati hidup. WiFi berkecepatan hingga 700 Mbps, ruang kerja terbuka yang lapang, tempat parkir yang memadai hingga ruang ibadah, semua tersedia di bawah naungan pohon pinus.
“Sentul kami pilih bukan tanpa alasan. Udaranya sejuk, suasananya tenang, dekat dengan kawasan perumahan, dan dikelilingi pohon pinus yang alami. Kami ingin Warisan Kopi menjadi tempat di mana orang bisa datang pagi-pagi jalan kaki, menikmati kopi sambil bekerja, atau sekadar melepas penat — semua terjawab di satu tempat ini,” tutur Hendri Long.

Saat ini, Warisan Kopi buka setiap hari pukul 10.00–22.00 WIB. Dalam waktu dekat jam buka menjadi lebih awal mulai pukul 08.00 pada hari kerja dan pukul 07.00 di akhir pekan. Setiap Jumat hingga Minggu, pengunjung dapat menikmati pertunjukan live musik. Harga minuman dibanderol antara Rp25.000 hingga Rp50.000 — sebuah keputusan harga yang, menurut Hendri Long, lahir dari keyakinan tentang akses yang inklusif.
“Kami ingin Warisan Kopi bisa dinikmati semua kalangan. Dengan budget Rp50.000 saja, pengunjung sudah bisa menikmati kopi premium dan camilan di tengah suasana yang luar biasa ini. Kopi berkualitas tidak harus mahal — dan itu yang ingin kami buktikan.”
Jika ada satu hal yang paling merepresentasikan identitas Warisan Kopi, itu adalah menu “Kopi Warisan”, racikan khas berbasis biji arabika pilihan yang dikombinasikan dengan creamer spesial buatan pabrik sendiri, menghasilkan tekstur kental yang khas saat dikocok. Inovasi ini bukan soal estetika semata, melainkan jaminan konsistensi rasa di setiap cangkir, di mana pun gerainya berada.

Menu lain tersedia lengkap: americano, cappuccino, latte, ditambah pilihan makanan seperti sandwich, roti abon ori dan spicy, serta egg tart produksi sendiri.
“Kami tidak hanya menjual kopi — kami mengontrol kualitas dari hulu ke hilir. Biji kopi kami tanam sendiri, creamer kami produksi di pabrik kami sendiri, dan racikan ‘Kopi Warisan’ kami kembangkan untuk memberikan pengalaman yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Konsistensi rasa adalah harga mati bagi kami,” imbuh Hendri.
Antusiasme publik sudah terbukti sejak hari pertama soft opening pada 22 April 2025, ketika lebih dari 4.000 pengunjung memadati lokasi — sebuah angka yang berbicara lebih keras dari kampanye pemasaran mana pun.
Dari 98 karyawan yang bertugas di Warisan Kopi Sentul, 62 orang di antaranya adalah warga lokal Bojong Koneng dan sekitarnya. Area parkir pun dikelola oleh tenaga dari lingkungan setempat, dengan tarif seragam Rp5.000 tanpa biaya tersembunyi.
“Dari 98 orang yang bekerja di sini, 62 di antaranya adalah anak-anak lokal dari lingkungan sekitar Bojong Koneng. Kami juga mempekerjakan warga untuk mengelola parkir dengan tarif yang jelas dan tidak ada pungutan liar. Kehadiran Warisan Kopi harus benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat setempat,”* tegas Moeldoko.
Warisan Kopi Sentul dirancang sebagai pilot project dari ekspansi di masa depan. Dari Jawa, ekspansi akan merambah Sumatera, dan seterusnya.
“Sentul ini adalah awal. Saya sudah memastikan bahwa konsep ini akan kita bawa ke daerah-daerah lain — di Jawa dulu, kemudian Sumatera. Di mana ada lahan yang memadai, di sana Warisan Kopi akan hadir, agar lebih banyak masyarakat bisa merasakan euforia yang sama,” ujar Moeldoko.
Sementara itu, dalam jangka panjang, Warisan Kopi mengincar pasar internasional. Identitas merek diwakili oleh logo perempuan Indonesia berkonde dan berbusana kebaya batik — bukan sekadar ornamen visual, melainkan pernyataan posisi yang tegas.
“Warisan Kopi lahir dari keyakinan bahwa kopi Indonesia layak berdiri sejajar dengan kopi-kopi terbaik dunia. Logo kami — seorang wanita Indonesia dengan konde dan kebaya batik — bukan sekadar simbol estetika. Itu adalah pernyataan: kami membawa warisan budaya Nusantara ke dalam setiap cangkir yang kami sajikan,” tutup Moeldoko.