Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
TRENDS.co.id, Jakarta – Bagi aktris sekaligus model Diana Pungky, perawatan antiaging bukan tentang berusaha terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Aktris sekaligus model ini justru melihat perawatan kulit sebagai bagian dari perjalanan untuk mempertahankan kualitas diri dan tampil sebagai versi terbaik di setiap fase kehidupan.
Perspektif tersebut ia bagikan dalam beauty talkshow “The Art of Timeless Beauty” yang digelar SCITON pada 4 September 2026. Acara ini mempertemukan Diana Pungky dengan Dr. Tae Jo Kang, plastic surgeon sekaligus Chief Director Yujin Plastic Surgery dari Korea, serta Mr. Joshua Kim, Regional Senior Director APAC SCITON.
Ketiganya membahas evolusi dunia estetika yang kini semakin bergerak dari sekadar mengejar tampilan lebih muda menuju pendekatan yang lebih personal, natural, dan berorientasi pada kualitas kulit.
Diana mengaku sudah mengenal perawatan kecantikan sejak usia muda. Bahkan, ia mulai melakukan treatment sejak usia belasan hingga 20-an. Namun, seiring bertambahnya usia, tujuan perawatan yang ia jalani ikut berubah.
“Bukan aku takut tua, tapi lebih ke versi terbaik di umurku sekarang,” ujar Diana di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Menurutnya, treatment yang dilakukan pada usia 40 tentu memiliki tujuan yang berbeda dengan perawatan ketika memasuki usia 50-an. Karena itu, ia tidak ingin mempertahankan wajah dari masa lalu, melainkan menjaga agar penampilannya tetap merepresentasikan dirinya saat ini dalam versi terbaik.
Baginya, perawatan estetika adalah investasi jangka panjang. Kebiasaan merawat diri sejak muda menjadi sesuatu yang manfaatnya baru semakin terasa ketika usia bertambah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan perubahan cara pandang terhadap antiaging. Penuaan merupakan proses biologis yang tidak perlu dilawan, tetapi kualitas kulit dapat tetap dirawat melalui gaya hidup sehat dan pilihan treatment yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Diana dalam memilih treatment adalah hasil yang terlihat natural. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak mengejar komentar bahwa ia terlihat lebih muda.
Menariknya, penampilan yang terlihat lebih fresh justru ia anggap sebagai bonus dari kulit yang terawat.
Diana juga memiliki pertimbangan yang cukup praktis dalam memilih treatment. Sebagai figur publik yang banyak beraktivitas dengan makeup, ia membutuhkan perawatan yang minim downtime sehingga tidak mengganggu rutinitas.
Ia telah menjalani treatment laser di BL selama sekitar satu tahun sebelum kemudian bergabung sebagai brand ambassador. Sebelumnya, Diana juga telah mencoba berbagai metode perawatan kecantikan dan mencari treatment yang menurutnya nyaman, memiliki downtime minimal, serta memungkinkan dirinya kembali menjalani aktivitas dengan cepat.
“Kalau kulit yang sehat itu, makeup-nya juga jadi nempel,” ungkapnya.
Bagi Diana, kondisi kulit yang terlihat sehat bahkan membuatnya tetap percaya diri ketika tidak menggunakan makeup. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap treatment estetika semakin bergeser: bukan semata-mata mengubah bentuk wajah, tetapi menciptakan kulit yang tampak sehat, segar, dan terawat.
Menjaga penampilan bagi Diana tidak berhenti pada treatment. Ia juga menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitasnya.
Diana memilih aktivitas seperti pilates, yoga, gym, hingga latihan kardio yang dapat dilakukan dalam suasana yang lebih tenang. Baginya, olahraga bukan sekadar mengikuti tren, melainkan aktivitas yang memang ia nikmati dan sesuai dengan karakter pribadinya.
Kombinasi antara perawatan dari luar dan gaya hidup tersebut menjadi bagian dari cara Diana menjaga dirinya seiring bertambahnya usia.
Pada akhirnya, konsep timeless beauty yang dibicarakan dalam acara tersebut bukan tentang mempertahankan penampilan di satu titik usia. Justru sebaliknya, kecantikan dapat terus berevolusi mengikuti perjalanan seseorang.
Perspektif personal Diana kemudian bertemu dengan pendekatan klinis yang dibawa Dr. Tae Jo Kang. Dalam sesi “From Experience to Expertise – Why Doctors Choose BBL & MOXI”, pembahasan berfokus pada bagaimana perkembangan teknologi aesthetic medicine dapat mendukung kebutuhan pasien yang semakin beragam.
Baginya, kecanggihan sebuah perangkat bukan satu-satunya pertimbangan. Teknologi perlu ditempatkan dalam clinical decision-making dan strategi treatment yang sesuai dengan kondisi pasien.
BBL dan MOXI menjadi bagian dari pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi berbasis light dan laser untuk mendukung kebutuhan aesthetic treatment yang lebih versatile dan terarah.
Sementara itu, Mr. Joshua Kim melihat perkembangan industri medical aesthetics di Asia Pasifik bergerak menuju treatment yang semakin personalized, precise, dan berfokus pada skin quality.
Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan antiaging bukan sekadar mencari cara untuk terlihat lebih muda. Yang semakin dicari adalah pendekatan yang mampu menjaga kesehatan dan kualitas kulit, memberikan hasil natural, serta tetap mempertahankan karakter wajah seseorang.
Seperti yang ditunjukkan Diana Pungky, menjadi “timeless” bukan berarti berhenti menua. Timeless beauty justru berarti mampu menjalani setiap usia dengan kulit yang terawat, rasa percaya diri yang tetap tumbuh, dan penampilan yang terasa autentik dengan diri sendiri.