Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
Trends.co.id, Jakarta – Bukan hanya yogurt atau suplemen mahal, kefir kini disebut-sebut sebagai minuman awet muda yang bekerja dari dalam tubuh. Riset terbaru mengungkap bagaimana minuman susu fermentasi ini berpotensi memperlambat tanda penuaan melalui sistem imun.
Kefir kini kembali mencuri perhatian. Jika sebelumnya kefir sempat popular karena bermanfaat untuk merawat kecantikan dan pencernaan, kini minuman fermentasi ini mulai dilirik sebagai minuman antiaging.
Dalam sebuah studi terbaru dari Jepang, tim peneliti dari Shinshu University meneliti lebih dalam bagaimana produk susu fermentasi seperti kefir berperan dalam proses penuaan. Fokus utamanya bukan hanya usia biologis, tetapi bagaimana sistem imun melemah seiring bertambahnya usia dan memicu peradangan kronis tingkat rendah, akar dari banyak penyakit degeneratif.
Seiring usia bertambah, sel-sel imun kehilangan kecepatan dan kemampuan membelah diri secara optimal. Kondisi ini memicu inflamasi ringan namun berlangsung lama, yang secara perlahan merusak jaringan dan organ penting seperti timus dan hati. Dalam jangka panjang, proses ini berkontribusi pada penurunan daya tahan tubuh, fungsi metabolisme, hingga kualitas hidup.

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa kefir mengandung bakteri asam laktat (lactic acid bacteria/LAB) dengan sifat antimikroba dan antiinflamasi. Namun, mekanisme spesifik bagaimana bakteri ini memengaruhi proses penuaan masih menjadi tanda tanya—hingga studi ini dilakukan.
Dalam penelitian tersebut, tikus usia lanjut diberi strain LAB nonaktif panas yang diisolasi dari kefir, yakni Lentilactobacillus kefiri YRC2606, selama delapan minggu. Hasilnya cukup menjanjikan.

Tikus yang menerima YRC2606 menunjukkan lebih sedikit perubahan terkait usia pada organ penting seperti timus dan hati. Penanda peradangan juga menurun, termasuk kadar protein yang biasanya menghambat pembelahan sel—salah satu pemicu utama penuaan jaringan.
Penulis utama studi, Hiroka Sasahara, menyatakan bahwa temuan ini membuka peluang besar.
“Strain YRC2606 berpotensi digunakan untuk membantu penanganan penyakit terkait usia, misalnya sebagai bahan pangan fungsional atau suplemen yang ditujukan untuk menjaga fungsi imun pada lansia,” ujarnya, dilansir New York Post.
Dengan sistem imun yang lebih terjaga, tubuh memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan fungsi fisik, kemandirian, serta kualitas hidup di usia lanjut—sebuah aspek krusial dalam konsep penuaan sehat.
Menariknya, kefir bukanlah tren baru. Nama “kefir” berasal dari kata Turki keyif, yang kurang lebih berarti “perasaan nyaman setelah makan.” Minuman ini berasal dari wilayah pegunungan di antara Asia dan Eropa, dan telah dikonsumsi selama ratusan tahun.
Secara tekstur, kefir mirip yogurt namun lebih cair. Dalam satu gelas, kefir mengandung sekitar sembilan gram protein serta lebih dari sepertiga kebutuhan kalsium harian orang dewasa—nutrisi penting untuk menjaga kepadatan tulang. Selain itu, kefir juga menyediakan fosfor, magnesium, serta vitamin B12, B2, D, dan K2 yang berperan dalam metabolisme dan kesehatan sel.
Kefir kaya akan probiotik—mikroorganisme baik yang membantu menyeimbangkan mikrobioma usus. Keseimbangan ini tidak hanya berpengaruh pada pencernaan, tetapi juga pada pengelolaan berat badan, kesehatan mental, hingga respons imun.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa Lactobacillus kefiri dapat menghambat pertumbuhan bakteri berbahaya seperti salmonella dan E. coli. Probiotik dalam kefir juga dikaitkan dengan perbaikan gejala sindrom iritasi usus, diare, alergi, bahkan potensi dukungan terhadap kesehatan jantung melalui penurunan kolesterol jahat.
Tak heran jika kefir semakin diposisikan sebagai minuman awet muda yang bekerja holistik—dari usus hingga sistem imun.
Meski menjanjikan, kefir bukan minuman yang bisa dikonsumsi berlebihan sejak hari pertama. Kandungan probiotiknya dapat memicu perut kembung atau gas pada sebagian orang. Karena itu, disarankan untuk mengonsumsinya secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi.
Individu yang sedang mengonsumsi obat imunosupresan juga perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin minum kefir. Kandungan bakteri dan ragi hidup di dalamnya umumnya aman bagi sistem imun sehat, namun perlu kehati-hatian pada kondisi medis tertentu.