Penderita Asam Lambung Puasa Ramadan, Aman atau Berisiko Kambuh? Simak Penjelasan Dokter

Dokter spesialis penyakit dalam menjelaskan, ada sejumlah faktor yang perlu dicermati ketika penderita asam lambung puasa Ramadan. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta – Bagi sebagian orang, terutama penderita asam lambung, kerap muncul pertanyaan klasik ketika hendak menjalankan puasa Ramadan: aman atau justru berisiko kambuh?

Dr. dr. Nu’man AS. Daud, Sp.PD-KGEH, FINASIM dari RS Wahidin Sudirohusodo menjelaskan, ada sejumlah faktor yang perlu diperhatikan saat penderita asam lambung puasa Ramadan. Menurutnya, semua Kembali pada pola makan, kondisi klinis, serta manajemen yang tepat.

Dr Nu’man mencermati, dalam banyak kasus, keluhan justru membaik Ketika penderita asam lambung puasa Ramadan.

“Umumnya pada orang-orang berpuasa justru gejalanya berkurang,” jelas dr. Nu’man. Ia mencontohkan kondisi GERD (gastroesophageal reflux disease) yang pada sebagian pasien terasa lebih ringan saat menjalani ibadah puasa.

Mengapa bisa demikian?

Menurutnya, salah satu faktor besar pemicu asam lambung adalah stres. Saat Ramadan, seseorang cenderung lebih mampu mengendalikan emosi. “Orang-orang yang berpuasa Ramadan, salah satu keberkahannya adalah mereka itu jiwanya tenang, tidak boleh marah-marah yang meningkatkan stres,” ujarnya.

Ketenangan ini berpengaruh langsung terhadap produksi asam lambung secara fisiologis. Artinya, ketika stres terkendali, produksi asam juga lebih stabil.

Namun tentu ada catatan penting.

Kapan Tidak Dianjurkan bagi Penderita Asam Lambung Puasa Ramadan?

Tidak semua kondisi aman. Dr. Nu’man menegaskan ada beberapa tanda bahaya yang membuat pasien sebaiknya tidak berpuasa.

“Selama tidak ada perdarahan lambung, selama tidak muntah-muntah berlebihan, selama nyerinya tidak berulang-ulang dan tidak berat, seharusnya berpuasa,” tegasnya.

Sebaliknya, puasa harus dihentikan bila terjadi:

  • Perdarahan lambung (muntah darah atau BAB hitam)
  • Muntah terus-menerus
  • Nyeri berat yang tidak membaik dengan obat

“Kalau ada perdarahan, tidak boleh berpuasa. Itu jelas tanda yang berat,” ujarnya.

Artinya, penderita asam lambung puasa Ramadan tetap memungkinkan selama kondisi stabil dan terkontrol secara medis.

Kunci Aman: Pola Sahur dan Buka Puasa

Banyak orang mengira masalah muncul karena lambung kosong terlalu lama. Padahal, pola makan yang keliru justru lebih sering menjadi biang keladi.

Mengajarkan anak puasa bisa dilakukan dengan mulai membiasakannya puasa dengan durasi setengah hari. (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)
Mengajarkan anak puasa bisa dilakukan dengan mulai membiasakannya puasa dengan durasi setengah hari. (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)

Dr. Nu’man menyarankan agar sahur dilakukan mendekati waktu imsak. “Kami anjurkan sahurnya diperlambat. Jangan sahurnya jam 03.00 kalau imsak jam 04.42. Sepuluh sampai lima belas menit sebelum imsak itu batas yang paling bagus,” jelasnya.

Selain waktu, jenis makanan juga krusial. Ia mengingatkan untuk memilih makanan yang lembut dan tidak merangsang produksi asam.

Beberapa yang perlu dihindari:

  • Kafein (kopi dan teh pekat)
  • Minuman bersoda
  • Makanan tinggi rempah dan cabai
  • Makanan yang memicu gas berlebih
  • Porsi berlebihan hingga kekenyangan

“Jangan makan yang terlalu banyak. Kekenyangan juga akan merangsang produksi asam yang berlebih,” katanya.

Untuk berbuka, ia menyarankan pola bertahap. Satu jam pertama cukup dengan makanan ringan dan lembut seperti pepaya, pisang, semangka, atau buah naga. Makanan berat bisa menyusul satu hingga dua jam setelahnya.

Pendekatan ini membantu lambung beradaptasi tanpa ‘shock’ mendadak.

Peran Obat: Jangan Dihentikan Sepihak

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menghentikan obat saat Ramadan.

“Ketika dia memang sudah dianjurkan oleh dokter minum obat, maka kebijakannya adalah minum obat sebelum sahur dan sebelum buka puasa,” jelas dr. Nu’man.

Ia menerangkan bahwa setelah sahur, sekitar 6–8 jam kemudian produksi asam bisa meningkat kembali, biasanya pada siang hingga sore hari. Jika obat diminum saat sahur, efeknya akan membantu menekan lonjakan tersebut.

“Sehingga keluhan-keluhan terkait asam lambung itu tidak akan muncul selama dia menjalankan ibadah puasa,” ujarnya.

Dengan manajemen yang tepat, penderita asam lambung puasa Ramadan tetap bisa menjalankan ibadah dengan nyaman.

Mengapa Justru Ada yang Merasa Lebih Baik Saat Puasa?

Fenomena ini sering terdengar: saat tidak puasa, keluhan muncul. Saat puasa, justru terasa lebih ringan.

Mayoritas ulama sepakat bahwa berdasarkan sejarah puasa Ramadan, kewajiban ibadah ini ditetapkan setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)
Mayoritas ulama sepakat bahwa berdasarkan sejarah puasa Ramadan, kewajiban ibadah ini ditetapkan setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)


Menurut dr. Nu’man, ini bisa jadi karena faktor stres atau pola makan sebelumnya yang kurang terkontrol. Ketika Ramadan memaksa seseorang lebih disiplin dan tidak makan berlebihan, lambung menjadi lebih stabil.

“Tidak jarang kita mendengarkan orang berpuasa, saya kok kalau berpuasa lebih enak,” katanya.

Namun ia kembali menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengontrol emosi dan perilaku. Jika dijalani secara utuh, dampaknya bukan hanya spiritual, tetapi juga fisiologis.

Prinsip Utama: Dengarkan Tubuh dan Ikuti Anjuran Dokter

Pada akhirnya, keputusan bagi penderita asam lambung puasa Ramadan harus berbasis kondisi individual. Tidak ada satu aturan yang berlaku untuk semua.

Jika keluhan ringan dan terkontrol, puasa dapat dijalankan dengan pengaturan pola makan dan obat. Namun jika muncul gejala berat, keselamatan tetap prioritas.

“Jangan takut, silakan berpuasa selama dokter mengizinkan,” pesan dr. Nu’man.

Ramadan sejatinya bukan tentang menyiksa tubuh, melainkan mendisiplinkan diri. Dengan pola sahur yang tepat, pilihan menu yang bijak, manajemen stres, serta kepatuhan pada terapi, lambung pun bisa tetap tenang sepanjang hari.

Bagi Anda yang memiliki riwayat gangguan lambung, kunci utamanya sederhana: konsultasikan lebih dulu, atur strategi sejak awal, dan jalani puasa dengan sadar serta terukur.

Berita Terkait :