Refleksi Jelang Puasa Ramadan: Kisah Taubat Seorang Pemabuk di Zaman Nabi

Refleksi Jelang Puasa Ramadan: Kisah Taubat Seorang Pemabuk di Zaman Nabi/ Foto: AI Generate /Foto: AI Generate by Trends.co.id
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta – Menjelang puasa Ramadan, banyak dari kita mulai sibuk berbenah. Ada yang menyiapkan fisik, ada yang mulai mengurangi kebiasaan kurang baik, ada juga yang diam-diam bertanya dalam hati: “Masih pantaskah aku berharap jadi lebih baik?”

Pertanyaan itu terasa sangat manusiawi, Trendies. Dan menariknya, di masa Nabi Muhammad SAW pun ada kisah seseorang yang bergumul dengan kebiasaan buruk—seperti minum alkohol—namun tetap memiliki tempat di sisi Rasulullah. Kisah ini bukan dongeng motivasi jelang ramadan saja. Ia tercatat dalam hadits sahih dan menyimpan pelajaran besar tentang taubat, empati, dan cara kita memandang orang lain. 

Siapa Sosok yang Terjatuh Saat Itu?

Sosok yang dimaksud adalah seorang sahabat bernama Abdullah bin Himar. Ia dikenal dengan julukan “Himar”. Dalam beberapa riwayat yang tercantum dalam Sahih Bukhari, disebutkan bahwa ia beberapa kali dihukum karena minum khamr (minuman keras). Yup, di masa itu pun ada orang yang struggling dengan kebiasaan buruk. Perlu diketahui, larangan minum khamr dalam Islam sudah mutlak adanya. Artinya, apabila seseorang melakukan hal tersebut memang sudah termasuk pelanggaran dan setiap kali tertangkap, orang tersebut harus menerima hukuman sebagaimana ketentuan syariat Islam.

Refleksi Jelang Puasa Ramadan: Kisah Taubat Seorang Pemabuk di Zaman Nabi
Refleksi Jelang Puasa Ramadan: Kisah Taubat Seorang Pemabuk di Zaman Nabi/ Foto: AI Generate

Namun yang membuat kisah ini begitu powerful bukan soal hukumannya, melainkan respons Nabi Muhammad SAW terhadapnya.

Suatu ketika, setelah ia kembali dihukum karena minum, ada sahabat lain yang kesal dan berkata kurang lebih, “Ya Allah, laknatilah dia. Betapa sering ia dibawa untuk dihukum.”

Kalimat itu mungkin terdengar familiar. Mungkin jika di zaman sekarang, apalagi jika minum minuman beralkohol dilakukan jelang atau saat ramadan bentuknya bisa jadi komentar pedas di media sosial, label “nih orang udah jauh dari kata taubat, udah gak ada harapannya deh..”, atau sindiran, “Ah, dia mah nggak bakal berubah.”

Tapi pada masa itu Rasulullah SAW langsung menegur. Beliau bersabda (diriwayatkan dalam Sahih Bukhari):

“Janganlah kalian melaknatnya. Demi Allah, aku tidak mengetahui kecuali bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.”

Bayangkan. Seseorang yang berkali-kali terjatuh dalam dosa, tetapi tetap diakui cintanya kepada Allah dan Rasul oleh Nabi sendiri. Di sinilah letak pelajaran besarnya.

Kapan dan di mana peristiwa ini terjadi?

Peristiwa ini terjadi di Madinah, pada masa Nabi Muhammad SAW hidup dan memimpin masyarakat Muslim, saat itu, Islam sudah memiliki sistem hukum yang jelas, termasuk tentang khamr. Menariknya, pengharaman khamr sendiri turun secara bertahap dalam Al-Qur’an. Artinya, perubahan sosial memang tidak instanbahkan masyarakat di Arab waktu itu sudah sangat terbiasa dengan minuman keras sebelum Islam datang. Sejak zaman dahulu hingga hari ini, transformasi memang membutuhkan waktu. 

Kisah Abdullah bin Himar sangat perlu untuk Trendies ketahui karena setiap manusia pasti pernah terjatuh dan berbuat kesalahan secara sadar, terpentingnya dari kisahnya ini menunjukkan bahwa jatuh bukan berarti tidak punya iman. Seseorang bisa saja masih berjuang, masih tersandung, tapi tetap punya cinta kepada Allah. Dan cinta itu penting.

Setiap Ramadan sering kali diidentikkan dengan “versi terbaik diri kita.” Tapi realitanya, banyak orang memasuki bulan suci dengan membawa rasa bersalah, kebiasaan yang belum bisa ditinggalkan, atau masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.

Jadi, mengapa kisah ini penting untuk kita?

  1. Karena Kita Sering Terlalu Cepat Menghakimi
    Di era digital, menghakimi itu gampang. Cukup satu postingan, satu kesalahan, satu kabar, lalu label langsung ditempel. Padahal Nabi Muhammad SAW justru melarang sahabat mencela orang yang jelas-jelas melakukan pelanggaran dengan pertimbangan tertentu. Beliau melihat sisi lain yang mungkin tidak semua orang lihat: hatinya. Ini relevan banget untuk milenial dan Gen Z yang hidup di dunia serba cepat dan serba viral. Kadang kita lupa, di balik kesalahan seseorang, ada perjuangan yang tidak terlihat.

    2. Karena Taubat Itu Proses, Bukan Instan
    Sering kali kita menganggap taubat harus langsung 100% berubah. Padahal realitasnya, perubahan bisa naik turun. Ada yang butuh waktu, ada yang perlu berkali-kali mencoba.

Islam memberi ruang untuk proses.

Cerita tentang pengharaman khamr pun turun secara bertahap dan tidak instan. Kalau syariat saja memahami proses manusia, mengapa kita tidak? Menjelang puasa ramadan, momen refleksi biasanya terasa lebih dalam. Ini beberapa cara praktis mengambil pelajaran dari kisah ini:

1. Evaluasi Tanpa Menghancurkan Diri Sendiri
Refleksi itu penting, tapi jangan berubah jadi self-hate. Kalau ada kebiasaan buruk yang belum bisa lepas, akui, evaluasi, dan minta pertolongan Allah Swt. Jangan langsung merasa “nggak layak”.

2. Kurangi Budaya Menghakimi
Coba tahan komentar negatif, terutama di media sosial. Kita nggak pernah tahu perjalanan iman seseorang. Bisa jadi orang yang hari ini kita anggap “bermasalah”, justru hatinya sangat dekat dengan Allah SWT.

3. Fokus pada Cinta kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW menekankan satu hal: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalau itu masih ada, berarti masih ada cahaya yang bisa tumbuh. Karena Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tapi memperkuat keimanan dan cinta itu sendiri.

Apa Pesan Terbesar dari Kisah Abdullah bin Himar?

Pesan terbesarnya sederhana tapi dalam:

Jangan pernah putus asa dari rahmat Allah. Dan jangan pernah merasa paling suci untuk menghakimi orang lain.

Kisah Abdullah bin Himar bukan pembenaran untuk berbuat dosa. Tapi ia adalah pengingat bahwa manusia itu kompleks. Ada yang terlihat kuat tapi rapuh di dalam. Ada yang terlihat jatuh, tapi hatinya masih menggenggam iman dan menjelang puasa, mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya:
– Apakah aku sudah cukup lembut pada diriku sendiri?
– Apakah aku terlalu keras menilai orang lain?
– Apakah aku masih punya cinta kepada Allah, meski belum sempurna?

Kalau jawabannya “ya”, berarti harapan itu masih ada.
Dan selama harapan masih ada, pintu hidayah dan taubat juga selalu terbuka.

Semoga Ramadan kali ini bukan tentang menjadi sempurna dalam semalam, tapi tentang berani melangkah—meski pelan—menuju versi diri yang lebih baik ya Trendies..

Berita Terkait :