Mengajarkan Anak Puasa Ramadan Sejak Dini, Simak Tips Aman dari Pakar Kesehatan Anak

Salah satu kunci keberhasilan mengajarkan anak puasa adalah memperhatikan menu sahur. (foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta – Bulan Ramadan sudah di depan mata. Di tengah kesibukan umat Muslim mempersiapkan bulan suci, tak sedikit orang tua yang mulai mencari tahu cara mengajarkan anak puasa sejak dini. Meski puasa Ramadan belum diwajibkan bagi anak-anak, memperkenalkan ibadah puasa sejak usia dini dinilai sebagai langkah positif untuk membentuk kebiasaan, kedisiplinan, serta pemahaman spiritual anak di masa depan.

Saat mengajarkan anak puasa, ada sejumlah hal penting yang perlu menjadi perhatian orang tua. Anak membutuhkan pendekatan bertahap, penuh empati, serta perhatian khusus terhadap kondisi fisik dan psikologisnya agar pengalaman berpuasa terasa menyenangkan, bukan paksaan.

Dari sudut pandang medis, tidak ada aturan baku mengenai usia minimal anak mulai belajar berpuasa. Meski begitu, para ahli kesehatan anak memiliki panduan tersendiri agar proses mengajarkan anak puasa tetap aman dan sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya.

Usia Ideal Mengajarkan Anak Puasa Menurut FKUI

Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menjelaskan bahwa usia prasekolah merupakan waktu yang tepat untuk mulai memperkenalkan puasa.

“Beberapa ahli mengatakan boleh memperkenalkan puasa atau suasana puasa mulai usia anak pra sekolah, mungkin 5–6 tahun kita boleh perkenalkan,” ujar Prof. Rini, dikutip dari situs FKUI, Minggu (15/2).

Pada usia ini, anak belum dituntut untuk berpuasa penuh, melainkan dikenalkan pada suasana Ramadan, seperti waktu sahur, berbuka puasa, serta kebiasaan beribadah bersama keluarga.

Mulai dari Hal Sederhana dan Menyenangkan

Menurut Prof. Rini, tantangan utama dalam mengajarkan anak puasa adalah kemampuan anak menahan rasa lapar dan haus. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menargetkan puasa sehari penuh.

“Maka dapat dimulai dengan ikut berbuka, kemudian shalat berjamaah, karena pada usia pra sekolah daya tangkap anak masih imajinasi dan belum bisa membayangkan apa manfaatnya berpuasa. Anak pra sekolah dan usia sekolah juga harus memiliki role model atau contoh bagaimana orang berpuasa tersebut,” kata Prof. Rini.

Artinya, keteladanan orang tua memegang peran sangat penting. Anak belajar bukan hanya dari perintah, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dan rasakan dalam keseharian.

Puasa Setengah Hari Lebih Dianjurkan

Durasi puasa Ramadan yang mencapai sekitar 13 jam dari sahur hingga Maghrib bisa menjadi beban bagi anak yang baru belajar. Karena itu, Prof. Rini menyarankan puasa setengah hari sebagai tahap awal dalam mengajarkan anak puasa.

Mengajarkan anak puasa bisa dilakukan dengan mulai membiasakannya puasa dengan durasi setengah hari. (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)
Mengajarkan anak puasa bisa dilakukan dengan mulai membiasakannya puasa dengan durasi setengah hari. (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)

“Kalau dia mampu diteruskan, jangan juga dipaksakan hingga si anak tidak melakukan aktivitas apa-apa atau tiduran saja, dan hanya duduk-duduk saja di sekolah,” terang Prof. Rini.

Orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda kelelahan pada anak, seperti terlihat lemas, kurang aktif, atau sulit berkonsentrasi. Jika kondisi ini muncul, anak sebaiknya diperbolehkan berbuka lebih awal.

Manfaat Puasa bagi Kesehatan Anak

Selain bernilai ibadah, mengajarkan anak puasa juga dapat memberikan manfaat kesehatan jika dilakukan dengan benar. Prof. Rini menjelaskan bahwa puasa memberi waktu istirahat bagi sistem pencernaan.

Salah satu yang perlu diperhatikan ketika orangtua mengajarkan anak puasa yakni waktu tidur si kecil. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)
Salah satu yang perlu diperhatikan ketika orangtua mengajarkan anak puasa yakni waktu tidur si kecil. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)

“Kalau dari segi kesehatan, sebenarnya kita perhatikan bahwa saluran cerna itu saat puasa dia beristirahat, dan melakukan fungsinya seperti biasa yaitu memperbaiki sel tubuh terutama di saluran pencernaan,” ujarnya.

Namun, manfaat ini hanya bisa dirasakan jika kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi dengan baik, terutama saat sahur dan berbuka.

Salah satu kunci keberhasilan mengajarkan anak puasa adalah memperhatikan menu sahur. Pola makan seimbang sangat diperlukan agar anak mampu bertahan hingga waktu berbuka.

“Protein harus tetap dikonsumsi, double protein juga boleh misal telur dan daging dan isi piring harus terpenuhi karbohidrat. Porsi sayur dan buah mungkin bisa dikurangi, jadi lebih banyak kandungan protein dan karbohidrat,” jelas Prof. Rini.

Ia juga mengingatkan pentingnya asupan cairan. “Mengoptimalkan minum air mineral dan jangan minum minuman yang mengandung gula karena kandungan airnya jadi berkurang,” tambahnya.

Saat berbuka, anak boleh makan dengan porsi lebih banyak, tetapi tetap bertahap. Camilan seperti biskuit sebaiknya diganti dengan roti yang lebih bergizi, serta menghindari makanan berlemak.

Perubahan Pola Tidur Anak Saat Ramadan

Puasa Ramadan juga memengaruhi pola tidur anak. Aktivitas tambahan seperti sholat Tarawih membuat jam tidur anak menjadi lebih mundur.

“Jika dibilang ada kekurangan waktu tidur maka itu ada mungkin sekitar satu atau setengah jam,” pungkas Prof. Rini.

Karena itu, tidur siang sangat dianjurkan agar anak tetap bugar dan tidak kelelahan selama menjalani puasa.

Mengajarkan Anak Puasa sebagai Proses, Bukan Paksaan

Pada akhirnya, mengajarkan anak puasa bukan soal target berapa jam anak menahan lapar, melainkan bagaimana orang tua mengenalkan makna puasa secara bertahap dan menyenangkan. Meski belum diwajibkan, pengenalan puasa sejak dini dapat membantu anak belajar mengatur waktu, disiplin, serta memahami nilai ibadah Ramadan.

Dengan pendekatan yang tepat, dukungan penuh dari orang tua, serta perhatian terhadap kondisi fisik anak, puasa Ramadan bisa menjadi pengalaman berharga yang membekas hingga dewasa.asupan cairan. “Mengoptimalkan minum air mineral dan jangan minum minuman yang mengandung gula karena kandungan airnya jadi berkurang,” tambahnya.

Saat berbuka, anak boleh makan dengan porsi lebih banyak, namun tetap bertahap. Camilan seperti biskuit sebaiknya diganti dengan roti yang lebih bergizi, serta menghindari makanan berlemak.

 

Berita Terkait :