Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
Trends.co.id – Terapi penyakit ginjal terus berkembang seiring meningkatnya jumlah pasien gagal ginjal kronis di Indonesia. Salah satu inovasi yang kini mendapat perhatian adalah penggunaan Erythropoietin (EPO), terapi biologis yang membantu mengatasi anemia pada pasien penyakit ginjal kronis, sekaligus mendukung sistem pengobatan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Inovasi terapi penyakit ginjal ini menjadi bagian dari upaya industri farmasi dalam meningkatkan akses pengobatan bagi pasien, sekaligus mengurangi beban biaya kesehatan jangka panjang. PT Etana Biotechnologies Indonesia menjadi salah satu perusahaan farmasi yang mengembangkan terapi EPO berbasis bioteknologi yang diproduksi secara lokal.
Business Unit Director PT Etana Indonesia, Roy Priadi, mengatakan bahwa inovasi farmasi menjadi kunci penting dalam menghadirkan pengobatan yang tidak hanya efektif, tetapi juga dapat diakses oleh lebih banyak pasien di Indonesia.
“PT Etana merupakan perusahaan bioteknologi yang berdiri sejak 2014 dan fokus memproduksi obat berkualitas, terjangkau, dan inovatif bagi masyarakat Indonesia,” ujar Roy pada peringatan Hari Ginjal Sedunia (WKD) 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa perusahaan menghadirkan berbagai produk bioteknologi di bidang renal, kardiovaskular, onkologi, hingga vaksin, dengan tujuan memperkuat akses pengobatan di dalam negeri.

Salah satu inovasi penting yang dikembangkan adalah terapi Erythropoietin (EPO) yang digunakan untuk mengatasi anemia pada pasien penyakit ginjal kronis.
Anemia merupakan komplikasi yang sangat umum dialami pasien gagal ginjal karena ginjal yang rusak tidak mampu memproduksi hormon erythropoietin secara optimal. Padahal hormon ini berfungsi merangsang produksi sel darah merah dalam tubuh.
Menurut Roy, terapi EPO menjadi bagian penting dari terapi penyakit ginjal modern karena mampu membantu pasien mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik.
“Langkah nyata yang kami lakukan adalah menghadirkan obat bioteknologi berupa terapi Erythropoietin untuk tata laksana anemia pada penyakit ginjal kronis yang aman, terjangkau, dan selalu tersedia di pasar Indonesia,” jelasnya.
Terapi ini umumnya diberikan kepada pasien yang menjalani hemodialisis atau cuci darah secara rutin.
Pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis membutuhkan pengobatan berkelanjutan untuk mengatasi berbagai komplikasi, termasuk anemia.
Roy menjelaskan bahwa pasien hemodialisis biasanya menjalani prosedur cuci darah dua kali dalam seminggu.
“Pasien hemodialisis umumnya melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu, sehingga dalam satu bulan bisa mencapai delapan kali. Dalam kondisi tertentu, setiap sesi hemodialisis membutuhkan terapi Erythropoietin untuk mengatasi anemia,” katanya.
Karena sifatnya jangka panjang, ketersediaan obat yang stabil dan terjangkau menjadi faktor penting dalam keberhasilan terapi penyakit ginjal.
Roy menekankan bahwa produksi obat secara lokal menjadi strategi penting untuk memperluas akses pengobatan bagi pasien di Indonesia.
Menurutnya, produksi dalam negeri dapat membantu menekan biaya terapi sekaligus memperkuat ketahanan farmasi nasional.
“Produk lokal memiliki keunggulan karena dapat bersaing dengan produk impor. Selain itu, produksi obat di dalam negeri juga membantu memperkuat ketahanan kesehatan nasional,” ujarnya.
PT Etana juga tengah mengembangkan fasilitas produksi bahan baku obat agar biaya produksi dapat lebih efisien.
Langkah ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan terapi penyakit ginjal dalam jangka panjang tanpa membebani sistem kesehatan nasional.
Roy menambahkan bahwa obat EPO produksi lokal juga memiliki harga yang lebih ekonomis dibandingkan produk impor.
“Harga erythropoietin yang kami produksi secara lokal lebih ekonomis dibandingkan produk sejenis yang masih impor,” katanya.

Selain mengembangkan inovasi obat, PT Etana juga aktif melakukan edukasi kesehatan bersama organisasi profesi dan tenaga medis.
Program edukasi ini dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi dokter dan komunitas kesehatan.
“Kami melakukan kolaborasi dengan berbagai stakeholder, termasuk organisasi profesi dan tenaga kesehatan, untuk meningkatkan edukasi masyarakat mengenai deteksi dini penyakit ginjal,” ujar Roy.
Menurutnya, banyak kasus penyakit ginjal baru terdeteksi pada stadium lanjut karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko seperti diabetes dan hipertensi.
Karena itu, edukasi menjadi langkah penting untuk mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini.
“Penyakit ginjal kronis sering berkembang tanpa gejala yang jelas. Karena itu masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, atau riwayat keluarga dengan penyakit ginjal perlu melakukan pemeriksaan rutin,” jelasnya.
Ke depan, inovasi bioteknologi diprediksi akan memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas terapi penyakit ginjal di Indonesia.
Roy menegaskan bahwa industri farmasi tidak hanya berperan memproduksi obat, tetapi juga mendukung pembangunan ekosistem kesehatan nasional.
“Komitmen kami adalah menjadi mitra dalam pembangunan kesehatan nasional, tidak hanya dengan menghadirkan obat, tetapi juga melalui kolaborasi, edukasi, dan pengembangan talenta lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pengembangan biofarmasi di dalam negeri akan memberikan dampak jangka panjang bagi sistem kesehatan Indonesia.
“Setiap obat yang diproduksi di Indonesia tidak hanya membantu pasien hari ini, tetapi juga memperkuat ketahanan kesehatan nasional untuk masa depan,” tutup Roy.
Dengan hadirnya inovasi seperti terapi Erythropoietin (EPO), harapan untuk menghadirkan terapi penyakit ginjal yang lebih aman, terjangkau, dan berkelanjutan bagi pasien di Indonesia semakin terbuka.