Kenapa Ada Orang Makan Banyak tapi Tetap Langsing? Nutrigenomik Bongkar Rahasia Berat Badan

Nutrigenomik tidak hanya membuka rahasia kenapa ada orang yang makan banyak tapi tetap langsing, tapi juga membantu memetakan respons tubuh terhadap olahraga,. (Foto: Ilustrasi AI/Trends.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Trends.co.id, Jakarta – Fenomena makan banyak tapi tetap langsing memang kerap memancing rasa penasaran. Seperti Trendies ketahui, ada individu yang makan nasi, gorengan, hingga hidangan penutup tanpa khawatir berat badan akan melonjak.

Di sisi lain, ada orang yang merasa makan sedikit saja jarum timbangan langsung bergeser. Terkait fenomena ini, ada penjelasannya secara medis. Faktor genetik, metabolism, dan pendekatan nutrisi berbasis nutrigenomik jadi kunci.

Kenapa Makan Banyak Tapi Tetap Langsing?

Menurut pakar gizi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, Subsp.K.M, perbedaan respons tubuh terhadap makanan sangat dipengaruhi oleh polimorfisme gen, yaitu variasi kecil pada gen yang membuat metabolisme tiap orang bekerja secara berbeda. Salah satu faktor kuncinya adalah resting metabolic rate (RMR) atau kebutuhan energi dasar tubuh saat istirahat.

Orang dengan RMR lebih tinggi akan membakar energi lebih cepat, sehingga kelebihan kalori tidak mudah disimpan sebagai lemak. Sebaliknya, pada individu dengan metabolisme lebih lambat, kelebihan energi harian—bahkan hanya sekitar 150 kalori—dapat terakumulasi dan memicu kenaikan berat badan dalam jangka panjang.

Peran Nutrigenomik dalam Mengurai Perbedaan Metabolisme

Di sinilah nutrigenomik berperan. Nutrigenomik adalah pemeriksaan gen yang berkaitan dengan nutrisi, metabolisme, dan gaya hidup. Lewat satu kali pengambilan sampel—baik darah maupun air liur—berbagai respons biologis tubuh dapat dipetakan.

“Dengan satu kali pemeriksaan, kita bisa mengetahui apakah berat badan mudah naik atau tidak, bagaimana respons kolesterol HDL, tekanan darah, hingga jenis olahraga apa yang paling optimal,” jelas dr. Fiastuti dalam live Instagram Kementerian Kesehatan yang dikutip Minggu (21/12).

Rekomendasi Olahraga Berdasarkan Nutrigenomik

Selain pola makan, pemeriksaan nutrigenomik juga memberi gambaran detail tentang respons tubuh terhadap olahraga. Dari satu kali pengambilan sampel—baik darah maupun air liur—dapat diketahui apakah olahraga tertentu efektif untuk:

  • Menurunkan atau menjaga berat badan
  • Meningkatkan kolesterol HDL (kolesterol baik)
  • Membantu mengontrol tekanan darah (tensi)

Bahkan, hasil pemeriksaan dapat menunjukkan jenis olahraga yang paling optimal untuk tiap individu. “Apakah olahraga endurance seperti lari dan bersepeda lebih cocok, atau latihan beban yang justru memberi manfaat lebih, itu semua bisa dipetakan,” jelas dr. Tuti. Dengan begitu, aktivitas fisik tidak lagi sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan biologis tubuh.

Makan Banyak tapi Tetap Langsing, Apakah Selalu Sehat?

Tubuh langsing tidak selalu identik dengan sehat. Menurut dr. Fiastuti, kesehatan juga ditentukan oleh komposisi tubuh—berapa banyak lemak dan massa otot yang dimiliki.

Seseorang bisa terlihat kurus, tetapi memiliki massa otot rendah dan lemak relatif tinggi, kondisi yang dikenal sebagai sarkopenia. Dampaknya, daya tahan tubuh menurun, mudah lelah, dan lebih rentan sakit. Karena itu, nutrigenomik dan pemeriksaan komposisi tubuh penting untuk memastikan bahwa kondisi “langsing” benar-benar sehat.

Tidak Perlu Menunggu Keluhan

Masih banyak orang yang baru memeriksakan diri ketika sudah muncul keluhan. Padahal, pendekatan ini justru membuat upaya pencegahan terlambat. Nutrigenomik memungkinkan seseorang yang merasa “baik-baik saja” untuk tetap memahami kondisi tubuhnya secara lebih mendalam.

Bagi mereka yang merasa sulit gemuk, nutrigenomik dapat membantu menjawab apakah kondisi tersebut murni karena gen metabolisme cepat atau justru ada faktor lain yang perlu diwaspadai, seperti komposisi tubuh yang tidak ideal. Begitu pula bagi mereka yang mudah gemuk, pemeriksaan ini membantu menghentikan kebiasaan “coba-coba diet” yang sering berakhir tanpa hasil.

Dari Tebak-Tebakan Diet untuk Kontrol Berat Badan ke Pendekatan Presisi

Banyak orang berpindah dari satu metode diet ke diet lain—intermittent fasting, diet rendah karbohidrat, hingga diet tinggi protein—tanpa tahu apakah metode tersebut sesuai dengan tubuhnya. Nutrigenomik mengubah pendekatan ini menjadi lebih presisi dan personal.

Setelah hasil pemeriksaan keluar, rekomendasi biasanya mencakup:

  • Pola makan yang paling sesuai dengan respons genetik tubuh
  • Jenis nutrisi yang perlu dibatasi atau justru ditingkatkan
  • Strategi olahraga yang paling efektif untuk tujuan tertentu, baik menaikkan berat badan sehat maupun menurunkannya

Pendekatan ini membantu individu mengambil keputusan berbasis data, bukan asumsi atau tren semata.

Berita Terkait :