Trends.co.id, Jakarta – Industri kendaraan atau mobil listrik Tanah Air kembali mendapatkan angin segar. PT Mobil Anak Bangsa (MAB) resmi menandatangani kerja sama strategis dengan Solarky Mobility Technologies (HK) Ltd dan PT Fortuna Ventura Investindo, memperkuat langkah Indonesia menuju era mobilitas berkelanjutan. Penandatanganan ini dilakukan oleh Founder MAB Jenderal (Purn) Dr. Moeldoko, CEO MAB Kelik Irwantono, Chairman Solarky Mobility Technologies Yinkai, serta President Director PT Fortuna Ventura Investindo Larry.
Kolaborasi tiga pihak ini menandai fase penting dalam pengembangan kendaraan listrik yang tidak hanya mengandalkan baterai, tetapi juga teknologi tenaga surya—sebuah inovasi yang berpotensi menjadi gebrakan global. Dalam skema kerja sama tersebut, MAB bertanggung jawab mengelola seluruh lini manufaktur, mulai dari perakitan, penyimpanan, hingga proses homologasi. Solarky Mobility Technologies menghadirkan teknologi dan komponen utama, sementara PT Fortuna Ventura Investindo berperan sebagai distributor eksklusif untuk pemasaran dan penjualan.
Pada tahap awal, distributor berkomitmen menyerap 2.000 unit kendaraan listrik MAB. Volume tersebut dapat meningkat hingga 10.000 unit per tahun, menyesuaikan permintaan pasar dan kapasitas produksi. Skema ini memperlihatkan optimisme tinggi terhadap potensi adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
“Planningnya adalah kita akan memproses homologasi dulu. MAB akan memproses homologasi… Setelah homologasi baru kita lakukan target mulai start assembly.” jelas Kelik Irwantono di Jakarta, Rabu (10/12).
Ia menambahkan bahwa proses homologasi diperkirakan selesai pada Mei atau Juni, sebelum produksi dimulai.
Menurut Kelik, skema kerja sama ini bukan sekadar memperluas portofolio bisnis MAB, namun juga untuk menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang. “Rencana tahun pertama adalah kita mulai dengan minimal 2.000 unit, kemudian meningkat terus 5.000 maupun setelahnya di atas 10.000. Itu untuk market Indonesia.”
Solarky bahkan melihat Indonesia sebagai pusat produksi utama untuk kendaraan setir kanan di berbagai negara. “Ini bagus untuk industri lokal, di mana mereka mempercayakan Indonesia sebagai hub-nya ke depan,” tambah Kelik.
Keunikan kendaraan ini terletak pada penggunaan panel surya sebagai sumber energi tambahan. Teknologi ini memungkinkan pengisian baterai secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada charging station—sebuah solusi yang sangat relevan untuk wilayah-wilayah terpencil.
“Kendaraan ini agak unik karena menggunakan solar. Mungkin baru pertama kali di dunia yang menggunakan solar panel,” ungkap Kelik.
Menurut Chairman Solarky, Yinkai, salah satu nilai unggul ada pada desain struktur rangka aluminium berbentuk “cage structure”, mirip dengan konstruksi kendaraan performa tinggi.
“This structure is much more stronger than steel structure… These high performance vehicles, they all using the aluminium structure,” jelas Yinkai. Ia menambahkan bahwa untuk versi pertama, kendaraan ini akan dibatasi pada kecepatan maksimum 80 km/jam, sehingga fitur ADAS disediakan sebagai opsi, bukan standar.
Kapasitas baterai dibuat lebih kecil agar harga lebih terjangkau, dengan dua opsi pengisian: melalui panel surya maupun plug-in. Jarak tempuhnya mencapai sekitar 200 km. “Solar ini sebenarnya dibuat untuk mengisi baterai… Karena baterai kapasiti dia dibuat kecil, sehingga harganya jadi terjangkau,” kata Kelik.
Dengan inovasi tinggi dan orientasi pada pasar massal, harga menjadi salah satu aspek paling krusial. Chairman Solarky mengungkapkan:
“The price maybe is around below the 150 million. Very cheap price.”
Langkah ini menempatkan MAB dan Solarky sebagai kompetitor kuat di segmen kendaraan listrik entry-level, khususnya bagi pengguna urban dan wilayah dengan akses energi terbatas.
President Director PT Fortuna Ventura Investindo, Larry, menegaskan komitmen menghadirkan harga yang dapat dijangkau masyarakat luas.
“Kami berusaha membuat harga mobil sangat murah. Bukan untuk kaum berada, melainkan untuk semua orang.”
Model yang akan diluncurkan pertama kali adalah four-seater, dengan rencana pengembangan tipe tambahan seperti pickup dan kendaraan komersial tiga roda.
Sebagai Founder MAB, Jenderal (Purn) Dr. Moeldoko menekankan pentingnya standar kualitas dan disiplin industri dalam menjalankan transformasi mobilitas nasional.

“Formula keuangan semacam ini akan sangat mengurangi target yang siap pakai dan akan langsung mengurangi modal. Ke depannya… kualitas harus menjadi protagonis. Kedua, keamanan uang dan mata uang.”
Ia menegaskan bahwa keberhasilan industri kendaraan listrik membutuhkan integrasi menyeluruh.
“Ekosistem industri, mulai dari perangkat lunak, komponen, distribusi, hingga produksi dan penjualan, harus dibangun secara tertib agar berkelanjutan… Tanpa ini, kita tidak akan mampu bertahan di kawasan ini.”
Moeldoko juga menekankan pentingnya semangat kolaboratif dan visi jangka panjang.
“Terus disiplin, melaksanakan, konsisten, dan berkomitmen untuk melindungi lingkungan demi masa depan Republik Indonesia dan masyarakat.”
Kerja sama antara MAB, Solarky, dan Fortuna Ventura bukan sekadar proyek bisnis, namun momentum penting dalam percepatan adopsi kendaraan listrik nasional. Dengan inovasi tenaga surya, struktur ringan berbahan aluminium, harga terjangkau, dan komitmen industri yang kuat, Indonesia berpeluang menjadi pemain penting dalam pasar kendaraan listrik global.
Peluncuran resmi dan pengumuman harga final akan dilakukan setelah proses homologasi rampung. Untuk saat ini, kolaborasi ini menjadi sinyal kuat bahwa kendaraan listrik bukan lagi masa depan—melainkan realitas yang semakin dekat untuk masyarakat Indonesia.