Menelusuri Sejarah Puasa Ramadan, Kapan dan Bagaimana Kewajiban Ini Ditetapkan

Mayoritas ulama sepakat bahwa berdasarkan sejarah puasa Ramadan, kewajiban ibadah ini ditetapkan setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta — Puasa Ramadan merupakan salah satu ibadah paling penting dalam Islam. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, sejarah puasa Ramadan menunjukkan bahwa berpuasa bukanlah ritual yang hadir secara tiba-tiba atau eksklusif hanya milik umat Islam. Puasa telah menjadi bagian dari praktik spiritual umat manusia jauh sebelum turunnya syariat Islam, terutama dalam tradisi agama-agama samawi.

Dalam konteks Islam, puasa Ramadan memiliki dimensi sejarah, teologis, dan spiritual yang saling terkait. Kewajiban ini diturunkan secara bertahap, seiring dengan pembentukan umat Islam sebagai sebuah komunitas yang mandiri setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah.

Sejarah Puasa Ramadan dan Tradisi Umat Sebelum Islam

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa puasa bukanlah ibadah baru dalam sejarah manusia. Umat-umat terdahulu, khususnya penganut agama samawi, telah mengenal dan menjalankan puasa sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan.

Hal ini ditegaskan langsung dalam Al-Qur’an melalui firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menjadi landasan utama dalam memahami sejarah puasa Ramadan, sekaligus menegaskan kesinambungan ajaran ilahi dari satu umat ke umat lainnya.

Hijrah sebagai Titik Balik Kewajiban Puasa Ramadan

Dalam kajian fikih dan ilmu Al-Qur’an, mayoritas ulama sepakat bahwa kewajiban puasa Ramadan ditetapkan setelah peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Syekh Yusuf al-Qardhawi dalam Fiqh ash-Shiyam menjelaskan bahwa puasa Ramadan mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah.

Periode Makkah dipahami sebagai fase penanaman akidah, tauhid, iman, dan akhlak. Pada masa ini, syariat Islam belum diturunkan secara lengkap. Ibadah yang diwajibkan saat itu hanyalah shalat lima waktu, yang diisyaratkan pada peristiwa Isra Mi’raj di tahun kesepuluh kenabian.

Setelah hijrah, umat Islam tumbuh sebagai satu entitas sosial dan jamaah yang khas. Hal ini tercermin dalam gaya seruan Al-Qur’an yang berubah menjadi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
“Wahai orang-orang yang beriman”

Menurut Syekh Manna’ Khalil al-Qattan dalam Mabahits fi Ulum al-Qur’an, seruan ini menjadi salah satu indikator ayat-ayat Madaniyah, yakni ayat yang turun di Madinah dan berisi pengaturan sosial serta kewajiban syariat, termasuk puasa.

Puasa Asyura dan Tahapan Pensyariatan

NU Online mencatat bahwa sebelum diwajibkannya puasa Ramadan, umat Islam menjalankan puasa pada tanggal 10 Muharram atau puasa Asyura. Tradisi ini juga dilakukan oleh kaum Yahudi sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan kaumnya dari Fir’aun.

Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan umat Islam untuk berpuasa Asyura. Namun, kewajiban ini bersifat sementara hingga Allah SWT menetapkan puasa Ramadan sebagai ibadah wajib selama satu bulan penuh.

Sejarah puasa Ramadan tidak bisa dilepaskan dari pendekatan pedagogis Islam. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)
Sejarah puasa Ramadan tidak bisa dilepaskan dari pendekatan pedagogis Islam. (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)

Pada fase awal, aturan puasa masih tergolong berat. Setelah berbuka dan tidur, umat Islam tidak diperbolehkan makan, minum, atau berhubungan suami istri hingga maghrib berikutnya. Karena banyak yang merasa kesulitan, Allah SWT kemudian menurunkan keringanan melalui Surah Al-Baqarah ayat 187, yang memperbolehkan makan, minum, dan berhubungan intim sepanjang malam hingga terbit fajar. Demikianlah sejarah puasa Ramadan.

Mengapa Puasa Ramadan Diwajibkan Bertahap?

Dalam Zâd al-Ma’âd, Ibnu al-Qayyim—sebagaimana dikutip Syekh Yusuf al-Qardhawi—menyatakan:

“Memisahkan jiwa dari sesuatu yang telah menjadi kegemarannya dan telah menyatu dengannya adalah pekerjaan yang paling berat dan sulit, karenanya kewajiban puasa diakhirkan ke periode pertengahan, hingga setelah hijrah.”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa sejarah puasa Ramadan tidak bisa dilepaskan dari pendekatan pedagogis Islam: syariat diturunkan secara bertahap agar manusia mampu menerimanya dengan kesiapan spiritual yang matang.

Tujuan Utama Puasa Ramadan: Takwa

Menilik sejarah puasa Ramadan, baik MUI, NU Online, maupun laman Baznas menegaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadan adalah mencapai ketakwaan. Hal ini secara eksplisit disebutkan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, “لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ”.

Puasa menjadi sarana pengendalian nafsu hewani—makan, minum, dan syahwat—yang kerap menjauhkan manusia dari nilai-nilai ilahiah. Dengan puasa, seorang muslim dilatih untuk bersabar, disiplin, serta menumbuhkan empati sosial yang lebih kuat.

Puasa Ramadan sebagai Pilar Pembentukan Umat

Baznas mencatat bahwa puasa Ramadan juga memiliki hikmah sosial yang luas: meningkatkan kepedulian terhadap sesama, membangun kebiasaan baik, serta memperkuat hubungan antara manusia dengan Allah dan sesama manusia.

Dalam perspektif sejarah, kewajiban puasa Ramadan menjadi bagian penting dari pembentukan identitas umat Islam. Hingga wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam telah menjalani Ramadan sebanyak sembilan kali—sebuah periode singkat, namun sarat makna dalam sejarah peradaban Islam.

Puasa Ramadan, dengan demikian, bukan sekadar ritual tahunan, melainkan warisan spiritual yang berakar kuat dalam sejarah puasa Ramadan dan diarahkan untuk membentuk manusia yang bertakwa. Wallahu a’lam.

Berita Terkait :