TRENDS.co.id , Jakarta – Trendies, perkembangan “super flu” kembali menjadi perhatian serius di awal 2026. Bukan hanya di Indonesia, lonjakan aktivitas influenza juga tercatat di Amerika Serikat dan Inggris, dengan dampak yang kian nyata terhadap sistem kesehatan, terutama pada kelompok rentan dan pasien dengan penyakit penyerta.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Tjandra Yoga Aditama berbagi pengamatannya terhadap perkembanagn super flu di dunia melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi TRENDS pada Jumat (9/1/2026).
Di Indonesia, sorotan publik menguat setelah sejumlah media nasional pada 9 Januari 2026 memberitakan kasus meninggalnya pasien dengan komorbid yang terjangkit super flu di RS Hasan Sadikin Bandung. Ketua Tim Penanganan Penyakit Infeksi Emerging (PINERE) rumah sakit tersebut menyatakan bahwa pasien berada dalam kondisi berat dengan riwayat penyakit serius.
“Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high care dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang kemudian dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain,” ujarnya.
Komorbid pasien influenza yang dimaksud mencakup stroke, gagal jantung, infeksi berat, hingga gagal ginjal. Karena itu, pihak rumah sakit menegaskan bahwa penyebab kematian tidak dapat secara mutlak dinyatakan akibat virus influenza semata.
Menurut Prof. Tjandra, konteks ini penting dipahami publik secara utuh.
Jika menoleh ke Amerika Serikat, skala kasus super flu jauh lebih besar. Berdasarkan laporan Januari 2026 dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebanyak 45 negara bagian berada dalam kategori aktivitas influenza “high” hingga “very high”.

Bahkan, kunjungan pasien dengan gejala mirip flu (flu-like symptoms) ke fasilitas kesehatan disebut sebagai yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir. CDC memperkirakan pada musim flu 2025–2026, Amerika Serikat menghadapi:
Sementara itu di Inggris, analisis yang dilakukan oleh UK Health Security Agency – Respiratory Virus Unit (UKHSA-RVU) pada periode minggu ke-40 tahun 2025 hingga minggu pertama 2026 menunjukkan dominasi kuat virus influenza A(H3N2).

Hasil analisis genetik mencatat:
Menurut Prof. Tjandra, ada tiga poin penting dari data Inggris ini.
“Pertama, yang mendominasi influenza saat ini memang H3N2. Kedua, ternyata virus influenza H1N1 penyebab pandemi 2009 masih tetap beredar. Ketiga, Inggris memiliki unit khusus yang secara konsisten memantau virus pernapasan, dan ini sesuatu yang idealnya juga dimiliki Indonesia,” jelasnya.
Lonjakan kasus super flu di tiga negara dengan konteks berbeda menunjukkan satu benang merah: influenza tetap dapat menjadi ancaman global. Di tengah mobilitas manusia yang tinggi dan perubahan iklim, virus pernapasan berpotensi menyebar lebih cepat dan berdampak lebih berat.
Dalam pesan tertulis sebelumnya, Prof Tjandra sempat menyinggung bahwa keterbukaan data dan konsistensi surveilans menjadi kunci penting menghadapi wabah penyakit menular, tak terkecuali influenza.
Praktik pelaporan perkembangan kasus scara rutin seperti yang dilakukan CDC menurutnya bisa menjadi inspirasi bagi negara lain, termasuk Indonesia.
“Tentu akan baik kalau kita juga mendapat laporan surveilans mingguan berbagai penyakit yang ada di negara kita,” kata Prof. Tjandra, yang saat ini juga menjadi Adjunct Professor di Griffith University Australia.