Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
Ternyata, ada alasan ilmiah dan praktis mengapa pasien rumah sakit diberi makan bubur, simak penjelasan berikut!
Halo, Sahabat Trenders! Ketika kita memikirkan makanan di rumah sakit, satu hal yang hampir selalu terlintas dalam pikiran adalah bubur. Ya, bubur telah menjadi ikon makanan rumah sakit. Tapi, pernahkah Sahabat Trenders bertanya-tanya mengapa bubur sering menjadi menu utama bagi pasien? Apakah ada alasan medis di balik pemilihan ini? Yuk, kita kupas tuntas bersama!
Salah satu alasan utama mengapa rumah sakit memberikan bubur kepada pasien adalah karena bubur sangat mudah dicerna. Setelah menjalani operasi atau ketika seseorang mengalami gangguan pencernaan, makanan padat bisa menjadi beban bagi sistem pencernaan. Di sinilah peran bubur yang memiliki tekstur lembut, tidak terlalu banyak serat, dan kadar air yang tinggi sehingga membantu menghidrasi tubuh serta mencegah sembelit.
Menurut Dr. Rina Andriani, seorang ahli gizi klinis, “Bubur yang dimasak dengan baik sangat mudah dicerna oleh tubuh dan membantu memberikan energi tanpa membebani sistem pencernaan. Ini sangat penting bagi pasien yang sedang dalam tahap pemulihan,” jelasnya dalam wawancaranya dengan Kompas Health.
Meskipun teksturnya lembut, bubur tetap dapat memberikan kalori dan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar tubuh. Biasanya, bubur di rumah sakit disajikan bersama lauk pauk ringan seperti ayam suwir, telur, atau tahu. Kandungan karbohidrat dalam bubur bisa membantu meningkatkan kadar glukosa dalam darah yang penting bagi pasien dalam masa pemulihan.
Studi dari Journal of Clinical Nutrition menyebutkan bahwa asupan makanan berkarbohidrat dengan tekstur lembut, seperti bubur, sangat efektif dalam membantu pasien memenuhi kebutuhan energinya setelah operasi atau selama masa pemulihan dari penyakit.
Ketika tubuh sedang dalam kondisi lemah atau setelah menjalani operasi besar, refleks tubuh, termasuk refleks menelan, bisa terganggu. Bubur menjadi pilihan yang aman karena teksturnya yang lembut mengurangi risiko tersedak.
“Bubur adalah pilihan yang ideal untuk pasien yang mengalami kesulitan menelan atau disfagia, karena konsistensinya yang lembut dan cairan yang cukup membantu menurunkan risiko aspirasi,” kata Dr. Farid Maulana, seorang spesialis penyakit dalam.
Disfagia, atau kesulitan menelan, sering kali terjadi pada pasien lanjut usia atau pasien pasca stroke. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Nursing menunjukkan bahwa diet dengan tekstur lembut seperti bubur dapat secara signifikan mengurangi risiko aspirasi dan komplikasi paru-paru pada pasien dengan disfagia.