Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
Trends.co.id – Di tengah derasnya arus impor pangan yang masih menghantui berbagai daerah di Indonesia, seorang pengusaha perempuan asal Bandung justru memilih bergerak nyata. Riezka Rahmatiana, Owner PT Rukun Raya, terbang langsung ke Riau untuk menjajaki potensi lahan tidur yang selama ini diabaikan dan mengubahnya menjadi mesin ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Bukan sekadar wacana, langkah ini sudah memasuki tahap konkret. PT Rukun Raya menggandeng masyarakat Riau dalam sebuah skema kolaborasi yang dimediasi pemerintah daerah setempat, menyasar lahan-lahan yang selama ini terbengkalai menjadi semak belukar atau hamparan kosong tanpa nilai produktif.
“Kita akan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif. Hasilnya diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat Riau sekaligus memperkuat ketahanan pangan,” ujar Riezka saat dihubungi pada Jumat (15/5/2026).
Gerakannya bukan tanpa arah. Riezka secara eksplisit menyebut program ini sebagai bagian dari respons terhadap visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan dan menggerakkan ekonomi daerah.
Yang membedakan program ini dari inisiatif serupa adalah pendekatan ekosistemnya. PT Rukun Raya tidak hanya masuk dengan modal, tetapi merancang empat skema yang saling menopang dari hulu ke hilir.
Pertama, penyediaan bibit unggul melalui PT Kahuripan Niaga. “Kami akan menyediakan bibit unggul untuk komoditas yang memiliki permintaan pasar tinggi, seperti pisang, cabai, timun, jagung, kacang panjang, dan bawang merah,” jelas Riezka.
Kedua, akses pupuk murah dan organik agar beban produksi petani tidak membengkak. “Kita siapkan pupuk dengan biaya rendah, tetapi tetap memberikan hasil maksimal,” katanya.
Ketiga, pendampingan petani yang dijalankan oleh tenaga lokal yang sudah dibekali pengetahuan pertanian. “Kami akan membina masyarakat setempat untuk menjadi pendamping petani, sehingga proses budidaya berjalan lebih optimal,” ujarnya.
Keempat dan ini yang menjadi pembeda paling signifikan – PT Rukun Raya hadir sebagai offtaker alias pembeli tetap hasil panen. “Ini yang paling penting, yaitu adanya jaminan pembelian hasil panen. Dengan begitu, petani bisa lebih tenang dalam berusaha,” tegas Riezka.
Jaminan serapan hasil panen adalah titik kritis yang kerap luput dari banyak program pertanian. Tanpa kepastian pasar, semangat petani kerap layu sebelum panen tiba.
Ada ironi besar yang menjadi latar belakang program ini. Riau – provinsi yang identik dengan kejayaan kelapa sawit dan label Bumi Lancang Kuning – ternyata masih sangat bergantung pada kiriman pangan dari luar daerah.
“Sekitar 85% kebutuhan pangan Riau masih dipasok dari Sumatera Barat dan Sumatera Utara,” ungkap Riezka.
Angka ini bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perputaran uang yang terus mengalir keluar dari Riau, sementara potensi lahannya belum disentuh secara optimal. “Padahal, Riau memiliki sumber daya ekonomi dari kelapa sawit. Namun, belanja pangannya masih banyak keluar daerah. Ini sangat disayangkan,” lanjutnya.
Untuk membalik kondisi ini, Riezka mendorong pembentukan klaster komoditas berbasis wilayah – sebuah model di mana setiap daerah punya spesialisasi produksi tersendiri. “Nantinya, akan ada wilayah khusus untuk buah-buahan, wilayah lain untuk sayuran, dan wilayah lainnya untuk persawahan,” jelasnya.
Model klaster ini diyakini mampu mendorong efisiensi, menciptakan identitas komoditas per daerah, sekaligus memperkuat rantai pasok pangan secara struktural.
Program ini tidak dirancang kecil-kecilan. Lahan yang disasar mencakup tanah milik masyarakat yang tidak produktif, termasuk lahan bekas perkebunan sawit yang sudah tidak lagi beroperasi.
“Sejauh ini, sudah ada empat kabupaten dari total sepuluh kabupaten di Riau yang kami jajaki untuk program ini,” ungkap Riezka.
Serius tidaknya sebuah program bisa dilihat dari siapa yang hadir di meja kolaborasi. Dalam proses penjajakan ini, beberapa kepala daerah turun langsung, di antaranya Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby dan Bupati Pelalawan H. Zukri. Daerah lain mengirimkan perwakilan strategis seperti Sekretaris Daerah Indragiri Hulu Zulfahmi Adrian dan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kampar Nur Ilah Ali.
Kehadiran para pemangku daerah ini menjadi sinyal bahwa program Riezka bukan sekadar ambisi swasta – melainkan gerakan kolaboratif yang mendapat resonansi dari pemerintah daerah yang memang tengah mencari solusi nyata atas defisit pangan di wilayah mereka.
Jika berhasil, Riau bisa menjadi model bagaimana sinergi swasta, petani lokal, dan pemerintah daerah mampu membalikkan ketergantungan pangan menjadi kemandirian – satu lahan tidur dalam satu waktu.