Enggak Lagi Diet Gara-Gara Tren, Food Genomics Ajak Makan Sesuai DNA

Keunggulan food genomics adalah kemampuannya memberikan gambaran potensi intoleransi atau sensitivitas terhadap makanan tertentu. (Foto: Istimewa/TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta – Food genomics mengubah cara kita memandang diet sehat—dari pola makan seragam menjadi pendekatan yang benar-benar personal. Trendies, jika selama ini diet tertentu terasa “berhasil” pada orang lain namun gagal pada diri sendiri, jawabannya mungkin bukan kurang disiplin, melainkan perbedaan biologis. Lewat pemetaan DNA, food genomics membantu membaca bagaimana tubuh merespons makanan secara unik, membuka era baru di mana makan sehat tak lagi soal tren, melainkan tentang memahami diri sendiri.

Pendekatan nutrisi ini mulai mencuri perhatian di dunia kesehatan modern. Alih-alih mengikuti pola makan seragam, food genomics menawarkan pola makan berbasis DNA atau disesuaikan dengan cetak biru biologis tubuh masing-masing—sebuah konsep yang terasa semakin relevan di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan personal.

Food Genomics: Ketika Nutrisi Bertemu DNA

Diet yang dikenal juga sebagai nutrigenomik, adalah metode penyesuaian pola makan berdasarkan profil genetik individu. Setiap orang memiliki variasi gen yang berbeda, dan perbedaan inilah yang memengaruhi bagaimana tubuh memetabolisme makanan—mulai dari karbohidrat, lemak, hingga respons terhadap vitamin dan mineral tertentu.

Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat dr. Davie Muhamad, (Foto: Primaya Hospital)
Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat dr. Davie Muhamad, (Foto: Primaya Hospital)

“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik memengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat dr. Davie Muhamad, melalui keterangan yang diterima redaksi Trends, Kamis (8/1/2026).

Pernyataan ini sekaligus menjelaskan mengapa diet konvensional sering menghasilkan efek yang sangat berbeda pada tiap orang. Tubuh manusia bukan sistem satu ukuran untuk semua—dan food genomics hadir untuk membaca perbedaan tersebut dari akarnya.

Bagaimana Tes Food Genomics Dilakukan?

Proses pemeriksaan food genomics relatif sederhana. Sampel diambil melalui darah atau air liur, kemudian dianalisis di laboratorium dengan waktu tunggu sekitar satu hingga dua minggu. Dari sana, dokter gizi klinik akan menginterpretasikan hasil DNA untuk menyusun rekomendasi nutrisi yang lebih presisi.

Rekomendasi ini tidak hanya sebatas “boleh” dan “tidak boleh” makan. Hasil food genomics dapat mencakup pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D, asam lemak omega-3, hingga saran jenis olahraga yang sesuai dengan karakter metabolisme seseorang.

Di Indonesia layanan pemeriksaan food genomics masih tergolong terbatas. (Ilustrasi AI)
Di Indonesia layanan pemeriksaan food genomics masih tergolong terbatas. (Ilustrasi AI)

“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik bersifat tetap. Namun dalam praktiknya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan—seperti stres, pola tidur, dan aktivitas fisik. Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” tambah dr. Davie.

Mendeteksi Risiko Sejak Sebelum Gejala

Salah satu keunggulan food genomics adalah kemampuannya memberikan gambaran potensi intoleransi atau sensitivitas terhadap makanan tertentu. Informasi ini membantu individu menghindari asupan yang berisiko memicu gangguan pencernaan, inflamasi kronis, hingga penurunan performa tubuh dalam jangka panjang.

Keunggulan food genomics adalah kemampuannya memberikan gambaran potensi intoleransi atau sensitivitas terhadap makanan tertentu. (Foto: Istimewa/TRENDS.co.id)
Keunggulan food genomics adalah kemampuannya memberikan gambaran potensi intoleransi atau sensitivitas terhadap makanan tertentu. (Foto: Istimewa/TRENDS.co.id)

Dalam konteks kesehatan modern, pendekatan ini sejalan dengan tren global menuju preventive dan precision health—fokus pada pencegahan berbasis data personal, bukan sekadar pengobatan setelah penyakit muncul.

Meski riset nutrigenomik secara global berkembang pesat, di Indonesia layanan food genomics masih tergolong terbatas. Padahal, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan preventif dan gaya hidup personal terus meningkat.

Bukan Diet Ajaib, Tapi Panduan yang Lebih Jujur

Penting untuk dipahami bahwa food genomics bukan solusi instan atau pengganti prinsip hidup sehat. Pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta komposisi nutrisi seimbang tetap menjadi fondasi utama kesehatan.

Pola makan berbasis DNA ini  lebih tepat diposisikan sebagai kompas—alat bantu untuk memahami tubuh dengan lebih jujur dan realistis. Dengan informasi yang tepat, seseorang bisa berhenti menyalahkan diri sendiri saat diet gagal, dan mulai menyesuaikan gaya hidup berdasarkan kebutuhan biologisnya.

Ke depan, food genomics diprediksi akan berkembang seiring integrasinya dengan teknologi kecerdasan buatan, big data, serta perangkat wearable yang memantau kondisi tubuh secara real time.

“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” tutup dr. Davie.

Berita Terkait :