Trends.co.id, Denpasar — Banyak orang mulai menerapkan budaya decluttering di tengah meningkatnya isu global warming dan perubahan iklim yang kian nyata. Langkah sederhana untuk memilah, menyingkirkan, dan menyederhanakan kepemilikan barang. Selain menciptakan rumah yang rapi dan bergaya minimalis, kebiasaan decluttering juga menjadi gaya hidup berkelanjutan para new gen (generasi baru) yang peduli terhadap lingkungan dan keberlangsungan hidup di masa depan.
Di era digital, banyak anak muda—terutama new gen atau generasi milenial dan Gen Z—mulai mengadopsi gaya hidup minimalis. Tren ini tidak hanya populer di media sosial seperti Instagram dan TikTok, tetapi juga menjadi gerakan nyata yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Bagi generasi muda, decluttering merupakan simbol kesadaran hidup berkelanjutan atau yang lebih dikenal dengan sebutan sustainability lifestyle. Dengan memiliki lebih sedikit barang, seseorang bisa lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting, mengurangi stres, serta menekan perilaku konsumtif yang berujung pada penumpukan sampah.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 40% berasal dari rumah tangga. Artinya, jika setiap keluarga menerapkan budaya decluttering secara konsisten, dampaknya terhadap pengurangan sampah nasional akan signifikan.
Beberapa manfaat langsung dari penerapan budaya decluttering antara lain:
Mengurangi limbah padat rumah tangga. Barang yang tidak terpakai bisa disumbangkan, dijual, atau didaur ulang.
Meningkatkan kesadaran konsumsi. Masyarakat lebih bijak membeli barang baru dan menghindar “belanja konsumtif” karena menyadari beban ekologis di balik setiap produk.
Mendorong ekonomi sirkular. Barang bekas menjadi komoditas bernilai melalui pasar thrift atau pusat daur ulang.
Menekan emisi karbon. Semakin sedikit produksi dan pembuangan barang, semakin kecil pula jejak karbon yang dihasilkan.
Dengan kata lain, praktik decluttering bisa menjadi strategi efektif menekan volume sampah nasional dan emisi karbon, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menerapkan decluttering tidak sulit. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan di rumah:
Pilah dan kategorikan barang. Tentukan mana yang disimpan, disumbangkan, dijual, atau dibuang.
Gunakan prinsip “satu masuk, satu keluar.” Setiap kali membeli barang baru, keluarkan satu barang lama agar tidak terjadi penumpukan.
Donasikan barang layak pakai. Banyak lembaga sosial, komunitas, dan aplikasi kini menerima donasi pakaian atau perabot.
Upcycle dan daur ulang. Barang rusak bisa disulap menjadi produk baru dengan sedikit kreativitas.
Jadwalkan decluttering rutin. Lakukan setidaknya sebulan sekali agar kebiasaan ini menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari
Budaya ini juga semakin seksi untuk diikuti karena mulai banyaknya movement dari para komunitas lokal yang mengadakan kegiatan seperti swap party (tukar barang), garage sale, dan donasi pakaian bekas untuk memperpanjang usia barang. Di Jakarta, Bali, Bandung, dan Yogyakarta khususnya, muncul pula inisiatif komunitas zero waste yang mengedukasi warga tentang pentingnya memilah sampah dan melakukan decluttering secara rutin.
Bagi Trendies yang berlokasi di Jakarta dan Bali, bisa ikut bergabung dengan komunitas lokal atau sekadar datang ke beberapa event yang mendukung budaya decluttering ini :
TRI Cycle Bali merupakan social enterprise yang berbasis di Bali telah melakukan festival fashion berkelanjutan sejak tahun 2012 di Bali hingga ekspansi ke Jakarta. Dalam rangkaian eventnya berfokus pada inisiasi ruang yang berupaya mempromosikan praktik berkelanjutan dan meningkatkan kesadaran tentang dampak lingkungan dari industri fashion.
Dalam festival ini, gerakan Clothes Swap Party juga menjadi acara yang paling ditunggu karena peserta dapat membawa pakaian bekas layak pakai dan ditukar dengan yang lain, sebagai bagian dari strategi untuk meminimalkan limbah fashion.
KYND Community lebih dikenal sebagai kafe vegan di Bali yang berfokus pada gaya hidup minimalis, konsumsi sadar, dan pengurangan limbah. Setiap tahunnya, KYND mengadakan thrift market yang terbuka untuk umum. Biasanya acara ini dilakukan dua kali dalam setahun dengan jenis barang yang beragam mulai pakaian, tas, sepatu dan item fashion lainnya. Lebih menariknya, disini Trendies dapat menemukan barang-barang dari brand lokal hingga high-end dengan kisaran harga mulai dari Rp50 ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Kini saatnya menjadikan decluttering habit sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, bukan hanya momentum musiman. Dengan kolaborasi antara individu, komunitas, dan pelaku usaha berkelanjutan, kita semua bisa membangun budaya konsumsi baru — di mana kesadaran, kepedulian, dan keberlanjutan menjadi fondasi utama dalam setiap keputusan ya Trendies. Karena pada akhirnya, kehidupan yang rapi, sederhana, dan bertanggung jawab adalah investasi terbaik untuk masa depan planet dan generasi berikutnya.