Antisipasi Ancaman KLB di Lokasi Bencana, Ini 5 Poin Penting dari Prof. Tjandra Yoga Aditama

menyebabkan kejadian puar biasa pasca bencana. (Ilustrasi AI/Trends.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Trends.co.id, Jakarta — Sudah hampir dua minggu sejak bencana banjir bandang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatra Barat. Ribuan warga terdampak, akses layanan publik terganggu, dan hingga kini relawan masih berjibaku membantu penyintas di titik-titik pengungsian. Namun, di balik penanganan yang berjalan, ada ancaman baru yang tak kasat mata: penyakit menular yang berpotensi berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pasca kejadian bencana alam.

Prof. Tjandra Yoga Aditama — Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Adjunct Professor Griffith University Australia, serta mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara — menyampaikan pesan tertulis berisi lima poin antisipasi penting agar potensi KLB dapat dicegah sejak dini. Ia menegaskan bahwa kondisi pasca banjir, terutama di wilayah dengan sanitasi yang terganggu, merupakan lingkungan ideal bagi patogen untuk berkembang.

Mengacu pada artikel ilmiah terbaru berjudul “Flood-associated disease outbreaks and transmission in Southeast Asia” yang dipublikasikan di Journal of Microbiology edisi Oktober 2025, Prof. Tjandra memperingatkan bahwa banjir di Asia Tenggara — termasuk Indonesia — terbukti berkaitan dengan peningkatan wabah penyakit menular. 

1. Kenali Penyakit Berisiko Tinggi Pasca Bencana Banjir

Menurut literatur ilmiah tersebut, beberapa mikroorganisme terbukti menjadi penyebab utama wabah pasca banjir. Prof. Tjandra menuliskan:

“Data ilmiah menunjukkan bahwa mikroorganisme penyebab KLB utamanya adalah Zoonotic Leptospira, Salmonella Typhi, Vibrio cholerae, Hepatitis A, dan parasit.”

Gejala penyakit yang disebabkan mikroorganisme tersebut sering kali tidak muncul di hari pertama, sehingga pelaporan jenis penyakit dan agen penyebabnya menjadi langkah penting untuk menentukan penanganan tepat sasaran. Ia juga menekankan pentingnya laporan laboratorium agar petugas kesehatan mengetahui patogen apa yang beredar di wilayah terdampak.

2. Air Banjir Bisa Mengandung Tiga Sumber Penularan

Air banjir bukan hanya air yang menggenangi wilayah — ia juga dapat membawa sumber penyakit berbahaya. Prof. Tjandra menjelaskan:

“Dalam air banjir dapat saja mengandung tiga bahan: feses manusia, limbah-limbah yang ada, serta patogen berbahaya dari hewan.”

Ketiga kombinasi ini menciptakan lingkungan patogenik ekstrem yang dapat menginfeksi siapa pun yang berkontak langsung, terutama saat aktivitas membersihkan rumah, mandi, atau memanfaatkan sumber air yang tidak higienis.

3. Waspadai Lonjakan Penyakit yang Ditularkan Nyamuk

Ketika air mulai surut dan genangan tersisa, ancaman baru muncul: nyamuk pembawa virus.

“Kita harus antisipasi kemungkinan peningkatan penyakit yang ditularkan nyamuk, utamanya Demam Berdarah Dengue dan juga malaria,” tulis Prof. Tjandra.

Genangan kecil — bahkan yang hanya sebesar tutup botol — dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti.

4. Ada Lima Faktor yang Dapat Memperburuk Situasi Kesehatan

Selain risiko biologis, ada serangkaian kondisi lingkungan dan sosial yang dapat mempercepat risiko wabah. Prof. Tjandra menyebutkan lima faktor pemicu:

1. Gangguan sistem WASH (Water, Sanitation, and Hygiene)

2. Munculnya resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance / AMR)

3. Gangguan fisik dan mental penyintas

4. Kepadatan di tempat pengungsian

5. Terganggunya pelayanan kesehatan akibat fasilitas rusak atau minim tenaga medis

Jika kelimanya terjadi bersamaan — seperti pola yang teridentifikasi di berbagai bencana besar — potensi terjadinya KLB meningkat signifikan. 

5. Bukti Data: Kasus di Asia Tenggara Meningkat pada 2024–2025

Artikel ilmiah tersebut mencatat peningkatan penyakit menular akibat banjir di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

“Tiga di antaranya terjadi di negara kita,” tegas Prof. Tjandra.

Penyakit yang dominan dilaporkan adalah leptospirosis, dengue, diare, hingga kolera — penyakit yang dapat berkembang cepat bila tidak ditangani.

Di akhir pesannya, Prof. Tjandra menuliskan, “Kita amat berharap agar jangan sampai terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular pada bencana besar yang kini terjadi. Untuk dapat mencegah dan menanggulanginya maka kini pemerintah perlu memberi perhatian besar pada kegiatan pengendaliannya.”

Lebih dari peringatan, pesan ini menjadi seruan agar pemerintah daerah, tenaga kesehatan, relawan, media, dan warga tetap waspada.

Bencana bukan hanya tentang gelombang pertama kerusakan — tetapi juga tentang memitigasi gelombang kedua berupa krisis kesehatan. Edukasi, surveilans penyakit, ketersediaan layanan kesehatan, serta penguatan sanitasi adalah langkah krusial yang harus dilakukan sekarang, bukan nanti.

Berita Terkait :