Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
Trends.co.id – Namanya dikenal jutaan orang. Dokter yang bicara blak-blakan, yang hadir di garis depan saat pandemi, yang videonya viral karena kejujurannya yang tidak basa-basi. Tapi ada satu kisah tentang dr. Tirta Mandira Hudhi yang jarang dibicarakan sepanjang ia lebih sering berbicara tentang kesehatan orang lain.
Kisah tentang bagaimana ia, seorang dokter, kecanduan rokok selama 17 tahun. Dan bagaimana ia akhirnya berhenti.
Bukan karena tekanan sosial. Bukan karena ceramah. Bukan karena gambar paru-paru hitam di bungkus rokoknya.
Tapi karena satu momen – ketika tubuhnya sendiri akhirnya berbicara cukup keras untuk ia dengarkan.
Dokter Tirta mulai merokok sejak kelas tiga SMP. Bagi banyak orang, itu mungkin terdengar seperti kenakalan remaja biasa – fase yang akan berlalu dengan sendirinya seiring kedewasaan.
Tapi bagi dr. Tirta, fase itu tidak berlalu. Ia bertahan. Menemaninya masuk kuliah kedokteran, menemaninya menjadi dokter, menemaninya menjalani hari-hari yang panjang dan melelahkan sebagai tenaga medis.
Tujuh belas tahun adalah waktu yang lama. Cukup lama bagi nikotin untuk benar-benar mengukir ulang cara kerja otaknya. Cukup lama bagi rokok untuk bukan sekadar kebiasaan – melainkan menjadi bagian dari identitasnya sehari-hari.
Dan ia tahu betul bagaimana adiksi itu bekerja. Sebagai dokter, ia belajar tentang siklus dopamin, tentang reseptor nikotin di otak, tentang gejala putus zat yang menghantam ketika seseorang mencoba berhenti. Tapi mengetahui sesuatu secara intelektual ternyata tidak secara otomatis membebaskan seseorang dari jeratnya.
“Sebagai seorang dokter dan mantan perokok berat selama belasan tahun, saya merasakan langsung betapa nyatanya jerat adiksi nikotin,” ungkapnya dalam Talkshow kampanye #SehatTanpaRokok di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Tahun 2020. dr. Tirta sedang dalam persiapan untuk suatu hal yang sangat ia inginkan – latihan fisik intensif, meningkatkan performa tubuhnya. Ia melakukan check-up. Dan hasilnya membuat ia terdiam.
“Saya berhenti merokok mulai 2020. Memang karena saya ingin latihan fisik saat itu. Kapasitas paru-paru saya – cuma tinggal tiga perempat. Mungkin kalau dokter spesialis paru atau PPOK yang lihat, ini sudah tidak bagus. Dan berat saya 59 kilogram. Itu yang membuat saya melakukan sesuatu,” ceritanya.
Tiga perempat kapasitas paru-paru. Pada usia yang seharusnya masih sangat produktif secara fisik. Pada tubuh yang ia ingin bawa berlari, bersepeda, berenang.
Bagi sebagian orang, mungkin angka itu masih terasa abstrak. Tapi bagi dr. Tirta yang memahami apa artinya fungsi paru yang berkurang, yang tahu ke mana arah perjalanan itu jika dibiarkan angka itu adalah peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Bukan dokter yang memberitahunya untuk berhenti. Bukan kampanye kesehatan. Bukan orang-orang di sekitarnya yang mungkin sudah lama ingin ia berhenti.
Tubuhnya sendiri yang akhirnya bicara. Dan kali ini, ia memilih untuk mendengarkan.
Yang menarik dari kisah dr. Tirta adalah pilihannya tentang bagaimana ia berhenti. Ia tidak menggunakan terapi pengganti nikotin. Ia tidak melalui program konseling bertahap. Ia memilih metode yang paling ekstrem sekaligus paling sederhana.
“Terus yang saya lakukan, saya stop total. Jadi itu metode yang saya pilih. Saya tidak ngerasain apapun – saya langsung stop,” ujarnya.
Berhenti total seketika – atau yang dalam dunia medis dikenal sebagai cold turkey – bukan metode yang cocok untuk semua orang. Para dokter dan panduan medis umumnya merekomendasikan pendekatan bertahap atau dengan bantuan farmakoterapi, justru karena gejala withdrawal bisa sangat berat dan menjadi alasan utama kegagalan.
Tapi dr. Tirta berhasil dengan metodenya sendiri. Dan kuncinya, seperti yang ia ungkap berulang kali, adalah satu hal: motivasi.
“Titik balik saya untuk berhenti adalah ketika saya menyadari penurunan kualitas kesehatan fisik secara drastis. Berhenti merokok memang butuh tekad, tetapi seringkali niat saja kalah oleh withdrawal syndrome,” tegasnya.
Ia tidak menyangkal bahwa metodenya bukan untuk semua orang. Ia bahkan dengan lantang mendukung penggunaan terapi medis bagi mereka yang membutuhkannya. Tapi bagi dirinya sendiri, kejelasan motivasi itu cukup kuat untuk melewati badai withdrawal yang ia alami di hari-hari pertama.
Berhenti merokok adalah satu keputusan. Tapi keputusan itu membutuhkan sesuatu yang mengisinya – ruang yang ditinggalkan rokok tidak bisa dibiarkan kosong begitu saja.
dr. Tirta mengisinya dengan olahraga. Dan bukan olahraga ringan. “Habis itu saya langsung berlari. Dan agak beban – sampai lima kali seminggu. Lari, renang, sepeda. Hampir semua saya lakukan. Dan sekarang saya sudah marathon lima kali,” ceritanya dengan nada yang tidak menyembunyikan kebanggannya – kebanggaan yang memang sangat layak ia rasakan.
Lima kali marathon. Dari seseorang yang empat tahun lalu kapasitas paru-parunya hanya tiga perempat dari normal.
Perjalanan itu tidak instan dan tidak mudah. Tapi ia membuktikan sesuatu yang penting: bahwa tubuh manusia memiliki kapasitas pemulihan yang luar biasa, jika diberi kesempatan. Bahwa paru-paru yang pernah digerogoti nikotin selama tujuh belas tahun masih bisa membawa seseorang melewati garis finish sebuah marathon.
“Saya lari UI Ultra – waktu 7 Desember sukses 10K. Dan saya juga masih lari sampai sekarang. Next race saya BNJ Marathon, berikutnya Gold Coast Marathon di Australia,” ujarnya.
Dari tiga perempat kapasitas paru-paru, ke lintasan marathon internasional. Itu bukan sekadar kisah berhenti merokok. Itu kisah tentang menemukan kembali potensi yang selama ini tertutup oleh asap.
Empat tahun setelah berhenti merokok, dr. Tirta melakukan sesuatu yang sangat khas darinya – ia mengukur hasilnya dengan data.
“Meta biologis saya itu dulu 22 tahun padahal saya usia 35 tahun. Dan hasil CPAT saya kemarin – dicek oleh beberapa dokter jantung – kemungkinan saya jatuh di CPAT itu 0,006 persen, karena saya bisa bernapas dengan sangat baik,” ungkapnya.
Usia biologis 22 tahun pada usia kronologis 35 tahun. Risiko kejadian kardiovaskular saat berolahraga berat hanya 0,006 persen.
Angka-angka itu bukan sekadar prestasi pribadi yang membanggakan. Ia adalah bukti ilmiah yang hidup dan bernafas tentang apa yang bisa terjadi pada tubuh ketika nikotin dihilangkan dan olahraga mengambil tempatnya.
“Dari situ saya bilang bahwa perokok bisa berubah menjadi atlet kalau dia menunjukkan niat yang sehat,” tegasnya.
Yang membedakan pendekatan dr. Tirta dalam mengajak orang berhenti merokok dari kampanye kesehatan konvensional adalah penolakannya terhadap pendekatan menghakimi atau menakut-nakuti.
“Edukasi saya bukan menakut-nakuti orang merokok. Saya edukasinya berbeda dari teman-teman dokter pada umumnya,” ujarnya.
Sebagai gantinya, ia menggunakan kombinasi humor, logika, dan yang paling kuat – contoh nyata dari orang-orang yang sudah berhasil.
“Saya suka banget memposting story dan live dari teman-teman atlet saya yang mantan perokok. Salah satunya Rafi Pace – dulu kerja di tempat merokok di kiroko, dan sekarang sudah jadi atlet elit. Larinya 5K sudah di 17 menit, pendingnya di 26 menit, dan harinya di 1 jam 16 menit,” ceritanya.
Ia juga memiliki cara tersendiri untuk merespons argumen-argumen yang sering dilontarkan perokok untuk membenarkan kebiasaan mereka. Ketika ada yang berargumen bahwa gula juga berbahaya jadi mengapa hanya rokok yang dipermasalahkan, dr. Tirta menjawab dengan logika sederhana yang sulit dibantah.
“Tubuh manusia memiliki pankreas untuk mengatur insulin yang mengatur gula. Tapi tubuh tidak memiliki organ apapun untuk mengatur racun dari rokok. Sesimpel itu,” ujarnya.
Dan ketika ada yang mengklaim tidak bisa menahan keinginan merokok karena craving, ia mengajukan pertanyaan yang membuat banyak orang terdiam:
“Bagi yang muslim, biasanya saya tanya – kamu berpuasa, ya? Selama berpuasa, apakah kamu pernah makan selama 12 jam? Tidak. Itu artinya kamu bisa menahan diri tidak merokok selama 12 jam saat berpuasa. Tapi kamu tidak bisa menahannya ketika tidak berpuasa. Sebenarnya kamu bisa tahan, cuma mentalnya yang belum siap. Artinya kamu tidak usah malu kalau kamu tidak bisa berhenti merokok – faktanya kamu bisa, terbukti saat puasa,” jelasnya.
Di akhir kisahnya, dr. Tirta selalu kembali pada satu pesan inti – pesan yang lahir dari pengalamannya sendiri, bukan dari buku teks kedokteran.
“Selama orang itu memiliki keinginan untuk berhenti yang lebih besar daripada keinginan untuk merokok, itu sudah cukup. Perokok butuh solusi terukur, bukan sekadar imbauan. Kombinasi antara niat yang kuat dari dalam diri dan bantuan metode ilmiah terbukti dapat meningkatkan tingkat keberhasilan untuk berhenti,” ujarnya.
Bagi yang merasa tekadnya belum sekuat dr. Tirta, ia tidak menghakimi. Ia justru mengingatkan bahwa ada bantuan yang tersedia – terapi pengganti nikotin, konseling, klinik Upaya Berhenti Merokok di Puskesmas, apoteker yang siap membantu.
“Sekarang sudah ada platform terapinya, sudah ada bantuannya. Jadi kalau memang ingin berhenti merokok, bisa mendapatkan bantuan. Perokok yang ingin berhenti itu tidak sendirian,” tegasnya.
Tujuh belas tahun merokok. Empat tahun bebas rokok. Lima kali marathon. Usia biologis 22 tahun di tubuh berusia 35 tahun. Risiko jantung 0,006 persen.
Kisah dr. Tirta bukan kisah tentang kesempurnaan. Ia adalah kisah tentang seorang manusia yang berjuang dengan kelemahannya sendiri dan pada satu titik, memilih untuk tidak lagi mengalah.
Ia bukan poster kesehatan yang sempurna. Ia adalah bukti hidup bahwa perubahan itu mungkin. Bahwa tujuh belas tahun kerusakan bisa mulai dipulihkan. Bahwa tubuh manusia, jika diberi kesempatan, memiliki kekuatan untuk bangkit kembali dengan cara yang bahkan kita sendiri tidak bayangkan sebelumnya.
Dan mungkin itulah pesan terpentingnya – bukan tentang angka di hasil lab, bukan tentang medali marathon, bukan tentang program terapi mana yang paling efektif.
Tapi tentang fakta sederhana bahwa satu keputusan, di satu momen yang tepat, bisa mengubah segalanya.