Teknologi radioterapi kanker serviks kini berkembang pesat dan menjadi harapan baru bagi perempuan Indonesia. Dengan radioterapi presisi tinggi, pengobatan kanker serviks semakin aman, nyaman, dan efektif, bahkan pada stadium lanjut.
Trends.co.id, Bekasi – Perkembangan teknologi radioterapi kanker serviks menghadirkan harapan baru bagi perempuan Indonesia di tengah masih tingginya angka kasus penyakit ini. Kanker serviks menempati peringkat kedua kanker terbanyak pada perempuan, dengan sekitar 36.000 kasus baru setiap tahun. Kini, radioterapi modern dengan presisi tinggi menjadi salah satu solusi penting yang semakin aman, nyaman, dan efektif bagi pasien.
Radioterapi tidak lagi identik dengan terapi yang menakutkan. Dukungan teknologi mutakhir membuat pengobatan kanker serviks semakin terarah, dengan tingkat keberhasilan yang terus meningkat serta efek samping yang lebih terkendali.
Menurut data terbaru yang dirangkum dari laporan Kementerian Kesehatan Indonesia serta lembaga internasional seperti World Health Organization (WHO), kanker serviks masih menjadi penyakit yang sangat signifikan di Indonesia:
Setiap tahun, sekitar 36.000 perempuan di Indonesia didiagnosis menderita kanker serviks.
Dari jumlah tersebut, sekitar 21.000 perempuan meninggal dunia akibat kanker serviks setiap tahunnya.
Kanker serviks adalah kanker penyebab kematian nomer dua pada perempuan di Indonesia, setelah kanker payudara.
Laporan dari Kemenkes menunjukkan rasio kejadian kanker serviks di Indonesia sekitar 23,3 per 100.000 penduduk, yang hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Sekitar 70% kasus kanker serviks didiagnosis sudah pada stadium lanjut, ketika terapi menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan menurun.
Kanker leher rahim atau kanker serviks merupakan penyakit yang terjadi akibat pertumbuhan sel-sel ganas secara tidak terkendali pada leher rahim (serviks). Penyakit ini menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan perempuan, namun sebenarnya dapat dicegah sejak dini.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan – berdasarkan data medis, sekitar 90 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) onkogenik yang bersifat persisten. Virus ini ditularkan terutama melalui kontak seksual dan dapat berkembang menjadi kanker apabila tidak terdeteksi dan ditangani dengan baik.
Salah satu langkah penting dalam upaya pencegahan kanker serviks adalah dengan mengenali faktor risikonya. Dengan memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko, masyarakat diharapkan lebih waspada dan mampu menghindari paparan yang berpotensi memicu terjadinya kanker serviks.
Berikut beberapa faktor risiko kanker leher rahim atau kanker serviks yang penting untuk diketahui:
Indonesia melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkomitmen menurunkan angka kejadian dan mortalitas kanker serviks melalui program skrining yang lebih baik dan perluasan vaksinasi HPV agar semakin banyak generasi muda terlindungi sejak dini.

Radioterapi merupakan salah satu dari tiga pilar utama terapi kanker, selain pembedahan dan terapi sistemik. Terapi ini menggunakan radiasi berenergi tinggi untuk menghancurkan sel kanker secara presisi tanpa harus melakukan tindakan invasif.
“Sekitar 50–60% pasien kanker membutuhkan radioterapi sebagai bagian dari rangkaian pengobatannya. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap skrining kanker serviks, semakin banyak pasien yang terdeteksi pada stadium yang masih dapat ditangani secara optimal dengan radioterapi, khususnya pada stadium II dan III,” ujar dr. Fauzan Herdian, Sp.Onk.Rad, Dokter Spesialis Onkologi Radiasi di Primaya Hospital Bekasi Barat dalam keterangan tertulisnya, Rabu (31/12/2025).
Peningkatan deteksi dini membuat peran teknologi radioterapi kanker serviks semakin krusial dalam memberikan peluang sembuh yang lebih besar bagi pasien.
Dalam praktik medis, radioterapi kanker serviks dilakukan melalui dua metode utama, yaitu radioterapi eksternal dan brakiterapi.
Radioterapi eksternal merupakan metode yang paling umum digunakan. Sinar pengion berenergi tinggi diarahkan langsung ke area tumor melalui mesin khusus, dengan durasi sekitar 10–30 menit per sesi dan tanpa menimbulkan rasa sakit.
Sementara itu, brakiterapi dilakukan dengan menempatkan aplikator langsung ke area tumor. Metode ini menjadi bagian penting bahkan wajib bila tidak ada kontraindikasi dalam terapi kanker serviks untuk melengkapi dosis radiasi secara optimal.
Efek samping radioterapi umumnya bersifat lokal dan sementara, seperti iritasi kulit, gangguan pencernaan, atau keluhan berkemih, yang dapat ditangani dengan pengawasan dokter.

Kemajuan teknologi menghadirkan metode radioterapi presisi tinggi seperti 3D Conformal Radiotherapy (3DCRT) dan Intensity-Modulated Radiation Therapy (IMRT), termasuk teknik lanjutan VMAT dan IGRT.
Teknologi ini memungkinkan dokter mengatur dosis radiasi secara lebih akurat sesuai bentuk dan lokasi tumor. Hasilnya, sel kanker dapat ditargetkan secara maksimal, sementara jaringan sehat di sekitarnya tetap terlindungi.
“Dengan teknik modern seperti IMRT dan VMAT, radioterapi kini semakin aman dan nyaman. Tingkat keberhasilan terapi meningkat, sementara efek samping dapat lebih terkontrol, termasuk pada kanker serviks pasca operasi atau yang telah menyebar ke kelenjar getah bening,” tambah dr. Fauzan.
Pada kanker serviks, teknologi radioterapi memiliki peran penting di berbagai tahap penyakit. Radioterapi dapat digunakan sebagai terapi tambahan setelah operasi, terapi utama pada stadium lokal lanjut, hingga pengendalian gejala pada stadium lanjut.
Layanan radioterapi komprehensif dengan teknologi modern ini telah tersedia di Primaya Hospital Tangerang dan Primaya Hospital Bekasi Barat, sehingga pasien memiliki akses yang lebih luas terhadap pengobatan kanker berkualitas.
Selain kemajuan teknologi radioterapi kanker serviks, pencegahan melalui pengelolaan gaya hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko penyakit ini. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain:
Pertama, melakukan vaksinasi HPV. Human Papillomavirus (HPV) merupakan penyebab utama kanker serviks. Vaksinasi HPV dianjurkan sejak usia remaja, baik pada perempuan maupun laki-laki, untuk memberikan perlindungan jangka panjang.
Kedua, menjalani skrining rutin. Pemeriksaan Pap smear setiap 3–5 tahun setelah menikah atau tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) sangat penting untuk mendeteksi perubahan sel serviks sejak dini.
Ketiga, menerapkan perilaku seksual yang aman. Mengurangi risiko infeksi HPV dapat dilakukan dengan menjaga perilaku seksual yang sehat dan bertanggung jawab.
Keempat, menghentikan kebiasaan merokok. Zat berbahaya dalam rokok dapat melemahkan sistem imun dan meningkatkan risiko terjadinya kanker, termasuk kanker serviks.
Kelima, menjaga pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, cukup istirahat, dan mengelola stres. Sistem imun yang kuat membantu tubuh melawan infeksi dan mempercepat pemulihan bila menjalani terapi.
Gaya hidup sehat tidak hanya berperan dalam pencegahan kanker serviks, tetapi juga membantu pasien menjalani pengobatan dengan kondisi fisik dan mental yang lebih baik.
Meski teknologi radioterapi kanker serviks terus berkembang, deteksi dini tetap menjadi faktor penentu utama keberhasilan pengobatan. Bila kanker serviks ditemukan pada tahap pra-kanker atau stadium awal, peluang kesembuhan sangat tinggi, bahkan mendekati 100 persen. Selain itu, durasi terapi lebih singkat, efek samping lebih ringan, dan biaya pengobatan lebih rendah.
“Radioterapi bukan lagi terapi yang menakutkan. Dengan teknologi modern, gaya hidup sehat, dan deteksi dini, radioterapi menjadi solusi yang memberi harapan besar bagi pasien kanker untuk sembuh dan kembali menjalani hidup secara produktif,” tutup dr. Fauzan.
Perpaduan antara teknologi radioterapi kanker serviks, kesadaran masyarakat, dan komitmen terhadap gaya hidup sehat menjadi kunci penting dalam menurunkan angka kanker serviks di Indonesia dan meningkatkan kualitas hidup perempuan di masa depan.