Sejarah Hari Ibu: Mengapa Indonesia Merayakannya Setiap 22 Desember?

Di Indonesia, Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. (Foto: Ilustrasi AI/Trends.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Trends.co.id, Jakarta – Hari Ibu bukan sekadar perayaan kasih sayang, tetapi lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan—baik di dunia maupun di Indonesia—untuk kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.

Setiap tahun, peringatan akan peran para ibu diperingati sebagai momen refleksi untuk menghargai peran ibu dan figur keibuan dalam kehidupan manusia. Namun, di balik perayaan yang kerap identik dengan bunga, kartu ucapan, dan ungkapan cinta, Mother’s Day memiliki sejarah yang panjang, kompleks, dan sarat makna sosial. Menariknya, Hari Ibu di Indonesia memiliki akar sejarah dan tujuan yang berbeda dengan Hari Ibu yang dirayakan di banyak negara Barat.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia dan Dunia

Sejarah Hari Ibu dapat ditelusuri jauh ke peradaban kuno, menurut berbagai sumber. Pada masa Yunani dan Romawi Kuno, masyarakat mengadakan festival untuk menghormati dewi ibu seperti Rhea dan Cybele, yang melambangkan kesuburan, kehidupan, dan perlindungan. Tradisi ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap peran ibu telah menjadi bagian penting dalam peradaban manusia sejak ribuan tahun lalu.

Dalam tradisi Kristen di Eropa, muncul perayaan “Mothering Sunday” yang dirayakan pada Minggu keempat masa Prapaskah. Pada hari tersebut, umat diajak kembali ke “gereja induk” mereka. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi momen untuk menghormati ibu dan figur keibuan dalam keluarga.

Bentuk peringatan bagi kaum ibu modern mulai dikenal pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Amerika Serikat. Pada 1870, aktivis sosial dan penyair Julia Ward Howe menyerukan adanya hari khusus untuk menghormati para ibu dan peran mereka dalam menciptakan perdamaian. Gagasan ini kemudian diwujudkan oleh Anna Jarvis pada 1908, yang mengorganisasi perayaan Mother’s Day pertama untuk mengenang pengorbanan ibunya. Upaya tersebut akhirnya membuat Hari Ibu diakui secara resmi dan menyebar ke berbagai negara di dunia.

Perayaan Hari Ibu di Berbagai Negara

Seiring waktu, Hari Ibu dirayakan dengan cara dan tanggal yang berbeda di setiap negara. Di Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan banyak negara lainnya, Hari Ibu diperingati pada Minggu kedua bulan Mei. Di Jepang, perayaan ini dikenal sebagai Haha no Hi, dengan tradisi memberikan bunga seperti anyelir kepada ibu.

Di Inggris, Mother’s Day masih terkait erat dengan Mothering Sunday, sementara di Ethiopia terdapat festival Antrosht yang dirayakan dengan jamuan makan dan nyanyian keluarga untuk menghormati peran ibu. Dalam tradisi Hindu, penghormatan kepada ibu dilakukan pada perayaan Mata Tirtha Aunshi, yang menekankan bakti dan rasa hormat kepada ibu sebagai sumber kehidupan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa meskipun bentuk perayaannya beragam, makna Hari Ibu bersifat universal: mengakui peran keibuan sebagai fondasi kehidupan sosial dan emosional manusia.

Sejarah Hari Ibu di Indonesia

Berbeda dengan negara Barat, hari peringatan bagi peran para ibu di Indonesia tidak berangkat dari tradisi personal atau komersial, melainkan dari sejarah perjuangan perempuan. Dilansir SBS, menurut sejarawan dan Pemimpin Redaksi Majalah Historia, Bonnie Triyana, Hari Ibu di Indonesia berakar dari semangat kolektif perempuan untuk memperjuangkan kemajuan bangsa.

Tonggak sejarah tersebut terjadi pada 22 Desember 1928, ketika Kongres Perempuan Indonesia pertama digelar. Kongres ini mempertemukan organisasi-organisasi perempuan dari berbagai daerah untuk membahas isu pendidikan, pernikahan, peran sosial perempuan, serta kontribusi perempuan dalam pembangunan bangsa. Momentum ini menandai kebangkitan kesadaran perempuan Indonesia sebagai kekuatan sosial dan politik.

Pada 1959, tanggal 22 Desember secara resmi ditetapkan sebagai Hari Ibu melalui Dekrit Presiden Nomor 316 yang ditandatangani oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Penetapan ini bertujuan untuk mengenang dan merayakan semangat perjuangan perempuan Indonesia dalam meningkatkan kondisi bangsa—bukan semata-mata sebagai perayaan domestik.

Makna Hari Ibu di Indonesia

Karena latar belakang sejarahnya, peringatan ini di Indonesia memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan hanya tentang hubungan ibu dan anak dalam ranah keluarga, tetapi juga tentang peran perempuan sebagai agen perubahan sosial. Hari Ibu menjadi simbol penghormatan terhadap kontribusi perempuan di berbagai bidang—pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga perjuangan kemerdekaan.

Makna ini sering kali terlupakan ketika hari peringatan bagi ibu direduksi menjadi perayaan seremonial semata. Padahal, esensi Hari Ibu di Indonesia adalah penghargaan terhadap kekuatan, keteguhan, dan dedikasi perempuan dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab.

Relevansi di Era Modern

Di tengah perubahan sosial dan tantangan zaman, makna Hari Ibu tetap relevan. Peran keibuan tidak selalu bersifat biologis. Ibu dapat hadir dalam berbagai bentuk: nenek, ibu angkat, pengasuh, guru, atau sosok perempuan yang memberikan kasih, perlindungan, dan bimbingan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran figur ibu atau pengasuh yang penuh perhatian berpengaruh besar terhadap kesehatan mental, perkembangan emosional, dan keberhasilan sosial anak. Hal ini menegaskan bahwa nilai-nilai keibuan merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan masyarakat.

Momentum Refleksi

Pada akhirnya, hari peringatan bagi kaum ibu adalah momen untuk merefleksikan peran perempuan dan figur keibuan dalam kehidupan kita—baik di ranah pribadi maupun sosial. Di Indonesia, peringatan ini seharusnya menjadi pengingat akan semangat perjuangan perempuan yang melampaui batas rumah tangga, sekaligus merayakan kasih yang menjadi sumber kekuatan bangsa.

Dengan memahami sejarahnya, Hari Ibu tidak lagi sekadar perayaan tahunan, tetapi sebuah penghormatan yang berakar pada nilai, perjuangan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Berita Terkait :