Mencoba Manfaat Craft Therapy, Healing Akhir Pekan Bermain Resin dan Clay di Rumah-an

Salah satu manfaat craft therapy yang paling terasa adalah pembelajaran tentang proses. (Foto: TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta – Trendies, mengisi akhir pekan dengan bermain resin dan clay, mencampur warna, lalu membentuknya menjadi karya seni ternyata bisa menjadi medium healing yang sederhana namun bermakna. Inilah salah satu manfaat craft therapy—sebuah praktik art therapy yang kian digemari karena mampu menenangkan pikiran, memantik imajinasi, sekaligus memberi ruang jeda dari hiruk-pikuk keseharian.

Lewat aktivitas sederhana seperti mencampur resin, membentuk clay, hingga menghias karya tiga dimensi, craft therapy menawarkan pengalaman yang lebih dari sekadar “bermain seni”. Tak heran jika pendekatan ini mulai dilirik sebagai cara menyenangkan untuk merawat kesehatan mental, termasuk bagi anak dan remaja yang tumbuh di era serba instan.

Contohnya seperti yang dilakukan sejumlah peserta anak dan remaja ketika mengikuti workshop Craft Therapy, Sabtu (3/1/2026). Workshop di Cafe Rumah-an, Lebak Bulus, Jakarta Selatan ini diinisiasi oleh Suar Kolektif, sebuah ruang kolaborasi seni lintas disiplin yang baru berdiri pada akhir 2025. Di balik kolektif ini ada Adisti Ahmadina, sosok yang lama berkecimpung di komunitas seni dan percaya bahwa seni punya daya sentuh yang sangat dalam bagi manusia.

Manfaat Craft Therapy dan Kesehatan Mental

Belakangan, craft therapy semakin populer sebagai bagian dari pendekatan art therapy. Melalui aktivitas seni—mulai dari membentuk clay, mencampur warna, hingga bekerja dengan resin—peserta diajak untuk hadir penuh dalam proses. Bukan sekadar mengejar hasil akhir yang “bagus”, melainkan menikmati setiap tahap yang dilalui.

“Belakangan ini seni banyak dijadikan terapi, terutama untuk mental health,” ujar Adisti. Menurutnya, seni membantu individu mengekspresikan emosi dan memberi ruang aman untuk melepaskan tekanan. Bahkan, pendekatan serupa juga digunakan dalam terapi bagi pasien dengan kondisi tertentu, termasuk rehabilitasi.

Pengalaman inilah yang kemudian menginspirasi Suar Kolektif menjadikan craft therapy sebagai pilot project. Bagi Adisti, seni bukan hanya soal estetika, tetapi juga tentang pengalaman batin.

Ruang Kolaborasi Lintas Usia dan Gender

Workshop craft therapy yang digelar Suar Kolektif diikuti peserta dari berbagai usia, dengan mayoritas anak-anak dan remaja. Menariknya, kegiatan ini bersifat all gender.

“Awalnya kami kira yang ikut paling cewek-cewek, tapi ternyata ada juga anak laki-laki dan mereka sama antusiasnya,” kata Adisti.

Darryl, salah seorang peserta workshop Craft Therapy semangat menuangkan cairan pewarna. (Foto: TRENDS.co.id)
Darryl, salah seorang peserta workshop Craft Therapy semangat menuangkan cairan pewarna. (Foto: TRENDS.co.id)

Hal ini menegaskan bahwa seni tidak mengenal batasan gender maupun usia. Semua orang bisa terlibat dan mendapatkan manfaat yang sama, selama diberi ruang untuk berekspresi dan berimajinasi.

Manfaat Craft Therapy: Belajar Proses, Bukan Sekadar Hasil

Salah satu manfaat craft therapy yang paling terasa adalah pembelajaran tentang proses. Anak-anak tidak hanya diajak menghias benda jadi, tetapi benar-benar membuat sesuatu dari awal: membentuk, menggabungkan, mewarnai, hingga melihat hasil akhirnya.

Salah satu manfaat craft therapy yakni berfokus pada proses. (Foto: TRENDS.co.id)
Salah satu manfaat craft therapy yakni berfokus pada proses. (Foto: TRENDS.co.id)

“Yang penting mereka harus melalui prosesnya. Biar mereka tahu, oh ternyata begini ya sebab-akibatnya,” tutur Adisti.

Menurutnya, pengalaman ini penting di tengah dunia digital yang serba instan. Banyak anak terbiasa belajar dari video singkat, tanpa benar-benar merasakan proses di balik sebuah karya.

Lewat craft therapy, anak-anak belajar motorik, kesabaran, dan menerima hasil apa adanya. Kepuasan yang muncul pun berbeda, karena karya tersebut lahir dari tangan mereka sendiri.

Resin, Clay, dan Edukasi Keamanan

Dalam workshop kali ini, Suar Kolektif menggunakan clay dan resin sebagai medium utama. Clay dipilih karena mudah digunakan, tidak perlu dibakar, dan bisa mengering dengan sendirinya. Sementara resin memberikan pengalaman seni tiga dimensi yang lebih kompleks.

Di workshop ini, Trendies bisa bermain-main dengan resin, warna, dan imajinasi untuk mencipta karya seni. (Foto: TRENDS.co.id)
Di workshop ini, Trendies bisa bermain-main dengan resin, warna, dan imajinasi untuk mencipta karya seni. (Foto: TRENDS.co.id)

Namun, resin juga memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang panas dan berbahan kimia. “Resin itu bahannya kimia dan sifatnya panas, jadi memang harus tahu tricknya. Itu kenapa perlu ada workshop seperti ini,” jelas Adisti. Melalui kelas, peserta dikenalkan cara memegang, treatment, serta batasan penggunaan bahan agar tetap aman.

Edukasi ini juga penting bagi orangtua yang ingin melanjutkan aktivitas dan merasakan manfaat craft therapy di rumah bersama anak. Dengan pemahaman yang tepat, eksplorasi seni bisa tetap aman dan menyenangkan.

Tantangan Mengajar Seni: Imajinasi Jadi Kunci

Mengajar seni pada anak, remaja, hingga dewasa tentu menghadirkan tantangan berbeda. Anak-anak biasanya butuh asistensi lebih, tetapi sering kali lebih imajinatif. Orang dewasa, sebaliknya, kerap datang dengan pola pikir yang sudah kaku.

“Selama ini tantangannya bukan di umur, tapi di imajinasi,” kata Adisti. Ia bercerita tentang pengalamannya mengajar workshop di lingkungan korporat. Meski hanya diminta mewarnai bidang yang sudah disiapkan, banyak peserta dewasa justru merasa sangat bahagia dan merasakan manfaat craft therapy.

“Ada yang sampai lupa minum, dua jam duduk dan menikmati prosesnya,” ujarnya. Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa seni mampu menyentuh sisi terdalam manusia dan membangkitkan emosi yang mungkin lama terpendam.

Seni sebagai Pengalaman Emosional

Bagi Adisti, craft therapy bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan medium untuk membangkitkan sensasi dan emosi. Melalui seni, seseorang bisa menyalurkan perasaan, meredakan stres, dan merasa lebih hadir pada dirinya sendiri.

Craft Therapy bisa diikuti semua usia dan gender. (Foto: TRENDS.co.id)
Craft Therapy bisa diikuti semua usia dan gender. (Foto: TRENDS.co.id)

Manfaat craft therapy pun terasa nyata: meningkatkan fokus, menenangkan pikiran, memperkuat imajinasi, hingga membangun kepercayaan diri. Tak heran jika pendekatan ini semakin relevan, terutama bagi anak dan remaja yang tumbuh di era digital dengan tekanan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Kolaborasi Suar Kolektif dan Cafe Rumah-an tidak berhenti pada akhir pekan ini saja. Workshop Craft Therapy akan dilakukan secara berkala di Rumah-an, Jl. Lebak Bulus 1 No. 51C, Jakarta Selatan, follow akun Instagram @suar.kolektif dan @rumah-an.id untuk info lebih lanjut.

Berita Terkait :