Audio ini dibuat secara otomatis. Ada masukan? Beritahu kami.
Trends.co.id, Jakarta – Kendaraan listrik Bandara Internasional Bali Utara akan menjadi bagian dari sistem transportasi terintegrasi yang disiapkan untuk mendukung operasional bandara berkonsep green airport. Memahami bahwa bandara masa depan tidak lagi hanya soal landasan pacu dan terminal megah, bandar udara ini menerjemahkan konsep tersebut menjadi sistem transportasi bandara berbasis kendaraan listrik yang dirancang sejak tahap awal pembangunan dengan keberlanjutan sebagai fondasi, bukan pelengkap.
Guna mewujudkan visi tersebut, kolaborasi PT Mobil Anak Bangsa (MAB) dan PT Bibu Panji Sakti dituangkan dalam penandatanganan nota kesepahaman pada Jumat (19/12) di Jakarta. Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Utama PT Bibu Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, dan Direktur Utama PT Mobil Anak Bangsa, Kelik Irwantono. Acara ini turut dihadiri Komisaris PT Bibu Panji Sakti Eddi Hariyadhi serta Direktur Utama PT BIBU Aero Abipraya Anak Agung Ngurah Ugrasena.
Kedua perusahaan mulai memetakan kebutuhan kendaraan listrik—dari apron bus hingga kendaraan operasional—beserta ekosistem pendukungnya. Seluruh perencanaan diselaraskan dengan konsep green airport dan masterplan kawasan bandara Bali Utara. Diketahui, perencanaan jangka panjang pengembangan bandara berkonsep “Tiga Ramah”: Ramah Teknologi, Ramah Lingkungan, dan Ramah Budaya.
Dalam keterangannya, Kelik Irwantono menegaskan bahwa keterlibatan MAB tidak hanya sebatas penyediaan unit kendaraan listrik, tetapi juga pembangunan ekosistem pendukungnya.
“Kami akan mendukung kendaraan-kendaraan nasional yang nantinya beroperasi di kawasan Bandara Internasional Bali Utara, termasuk menyiapkan ekosistem kendaraan ramah lingkungan secara menyeluruh,” ujarnya.

Bandara Internasional Bali Utara dirancang mencakup tiga zona utama: kawasan bandara, Aerocity, dan Aerotropolis. Menurut Erwanto, skala kawasan tersebut menuntut sistem transportasi internal yang efisien sekaligus berwawasan lingkungan.
“Kami sejak awal menetapkan bandara ini sebagai green airport. Karena itu, alat transportasi dan operasionalnya harus ramah lingkungan. Produk karya anak bangsa seperti dari MAB sangat relevan dengan visi tersebut,” katanya.
Soal jenis kendaraan, MAB telah menyiapkan portofolio yang luas untuk kebutuhan bandara. Kelik menjelaskan bahwa kendaraan yang paling relevan antara lain apron bus listrik dengan desain low entry dan low floor untuk memudahkan mobilitas penumpang di area terminal dan apron. Selain itu, tersedia bus medium hingga bus 12 meter untuk transportasi penumpang antarterminal maupun kawasan sekitar bandara.
Tak hanya itu, MAB juga menyiapkan kendaraan listrik untuk operasional pendukung, seperti angkutan kru, kendaraan pengangkut bagasi, truk operasional, ambulans, hingga kendaraan pemadam kebakaran.
“Jumlah unit dan spesifikasinya akan ditentukan bertahap, menyesuaikan masterplan bandara dan hasil kajian teknis bersama,” jelas Kelik. Proyek bandara sendiri ditargetkan rampung pada 2028, sehingga fase persiapan teknis dan pengadaan dilakukan sejak dini.
Kerja sama ini juga mencakup perencanaan infrastruktur pendukung, termasuk charging station. Menurut Kelik, bandara yang mengusung konsep hijau akan memanfaatkan sumber energi terbarukan seperti panel surya.
“Kami tidak hanya bicara kendaraan listriknya, tetapi juga infrastrukturnya. Jumlah dan titik charging station akan ditentukan berdasarkan populasi kendaraan dan kebutuhan operasional,” ujarnya.
Terkait skema bisnis, MAB dan Bibu Panji Sakti membuka berbagai opsi, mulai dari pengadaan langsung hingga skema operasional tertentu. “Pada dasarnya ada pengadaan, tetapi ke depan banyak skema yang bisa dibahas dan disesuaikan,” tambah Kelik.
Saat ini, MAB memiliki dua fasilitas produksi utama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk memenuhi kebutuhan Bandara Internasional Bali Utara, MAB berencana memaksimalkan fasilitas di Jawa Tengah yang telah beroperasi sejak 2019. Fasilitas Jawa Timur sendiri dijadwalkan mulai beroperasi pada Januari mendatang, dengan fokus pada kendaraan listrik berat seperti truk.
Hingga kini, MAB telah memproduksi puluhan unit bus listrik yang digunakan di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, hingga Sulawesi. Selain bus, MAB juga memasok truk sampah listrik dan kendaraan komersial lainnya untuk pemerintah daerah maupun sektor industri. Pengalaman ini menjadi modal penting dalam mendukung proyek bandara berskala besar.
Menariknya, kerja sama ini juga membuka peluang penerapan kendaraan otonom (autonomous vehicle) di kawasan bandara. Kelik menilai, secara teknologi hal tersebut sudah memungkinkan, terutama karena operasinya berada di area tertutup.
“Untuk di kawasan bandara sangat memungkinkan. Tantangannya di Indonesia lebih ke regulasi jika diterapkan di jalan umum,” jelasnya. Implementasi kendaraan otonom pun akan dilakukan bertahap sesuai kebutuhan.
Dengan kolaborasi ini, Bandara Internasional Bali Utara diharapkan menjadi contoh pengembangan bandara hijau di Indonesia, sekaligus etalase kemampuan industri kendaraan listrik nasional. Bagi MAB dan Bibu Panji Sakti, proyek ini bukan sekadar kerja sama bisnis, melainkan kontribusi strategis menuju transisi energi dan transportasi berkelanjutan berbasis karya anak bangsa.