
TRENDS.CO.ID, Labuan Bajo – Ancaman intoleransi, radikalisme, hingga terorisme dinilai dapat melemahkan fondasi bangsa jika tidak dicegah sejak dini. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diajak untuk menjaga persatuan dan memperkuat komunikasi melalui forum dialog kebangsaan untuk memecahkan berbagai masalah-masalah sosial ke masyarakat. Ini penting dalam melakukan pencegahan dini intoleransi, radikalisme, dan terorisme.
Hal itu dikatakan Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Sudaryanto, S.E., M.Han., pada kegiatan Dialog Kebangsaan Bersama Pemuda dalam Rangka Meningkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (27/8/2025).
“Saya sangat mengapresiasi terselenggaranya Dialog Kebangsaan yang dihadiri lengkap oleh Forkopimda Kabupaten Manggarai Barat beserta tokoh masyarakat, adat, pemuda, dan elemen masyarakat lainnya,” ujar Mayjen Sudaryanto.
Hadir pada Dialog Kebangsaan Direktur Pencegahan BNPT Prof. Dr. Irfan Idris, M.A., Kasubdit Kontra Propaganda BNPT Kolonel Cpl Hendro Wicaksono, S.H., iM.Krim.. Jajaran Forkopimpinda Manggarai Barat Wakil Bupati Manggarai Barat dr. Yulianus Weng, M.Kes., Kapolres AKBP Christian Kadang, S.IK., Dandim Letkol Inf. Budiman Manurung, Danlanal Labuan Bajo Letkol Laut Ardian Widjanarko Djajasaputro, Kepala Kejaksaan Negeri Manggarai Barat Sarta, S.H., dan perwakilan dari Kemenag, Kejaksaan Negeri, dan Kesbangpol.
Mayjen Sudaryanto mengungkapkan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat komunikasi dan mencegah terjadinya kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kalau di Surabaya dulu saya menyebutnya cangkrukan. Setiap minggu kami berdialog dengan Forkopimda dan masyarakat agar komunikasi tidak lemah. Forum seperti ini bermanfaat sebagai wahana untuk menyelesaikan persoalan bersama,” ungkap mantan Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya Surabaya ini.
Menurutnya, meski Manggarai Barat relatif kondusif, dialog kebangsaan tetap diperlukan agar bibit-bibit masalah seperti intoleransi dan radikalisme bisa diantisipasi sejak dini.
“Kalau dibiarkan tumbuh, intoleransi bisa berkembang menjadi radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme. Karena itu, sebelum membesar, harus kita hilangkan sejak awal,” tegasnya.
Sudaryanto juga menyinggung sejarah lahirnya bangsa Indonesia yang dibangun atas dasar persatuan dalam perbedaan. Para pendiri bangsa yang tergabung dalam Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Ambon, dan organisasi kepemudaan lainnya sepakat memilih Pancasila dan Burung Garuda sebagai lambang persatuan.
“Namun, kini perbedaan agama atau suku sering dijadikan masalah. Padahal, persatuan dan kesatuan adalah kunci agar bangsa ini kuat,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa isu radikalisme sering disusupkan pihak luar dengan menyasar generasi muda sebagai target utama. “Pemerintah menargetkan Indonesia pada 2045 masuk lima besar ekonomi dunia. Tapi ada pihak yang tidak senang dengan kemajuan itu. Karena itu, pemuda harus kita jaga, karena merekalah penerus yang kelak menggantikan para pemimpin daerah dan nasional,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengajak ormas dan tokoh agama berperan sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, menjadi penyeimbang sekaligus memberi kontribusi yang konstruktif.
“Terima kasih atas kehadiran semua pihak dalam dialog ini. Semoga forum ini menjadi sarana strategis untuk saling berkomunikasi, bertukar pikiran, dan menghasilkan kesepahaman sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dalam bingkai NKRI,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, M.Kes., mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga kondusivitas daerah dalam mendukung perkembangan pariwisata.
Menurutnya, Labuan Bajo yang kini menjadi destinasi prioritas wisata dunia membutuhkan suasana aman dan nyaman bagi wisatawan. “Rasa aman bukan hanya tugas aparat keamanan, tetapi juga tanggung jawab kita semua. Pemuda adalah tulang punggung bangsa, sebagaimana pesan Bung Karno: beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” tegas Yulianus.
Ia menambahkan, situasi Manggarai Barat saat ini relatif kondusif berkat sinergi tokoh agama, masyarakat, dan Forkopimda. Ia juga menekankan pentingnya toleransi yang sudah lama hidup di Manggarai Barat. Dalam perayaan besar keagamaan, pengamanan tidak hanya dilakukan aparat, tetapi juga melibatkan pemuda lintas agama.
“Ketika Natal atau Paskah, Banser dan remaja masjid ikut menjaga. Begitu pula saat Idulfitri, anak-anak muda Katolik dan Kristen juga turut mengamankan. Inilah wajah kerukunan kita,” ungkapnya.
Pada sesi dialog, tampil narasumber-narasumber antara lain Direktur Pencegahan BNPT Prof. Irfan Idris, Ketua PCNU Manggarai Barat H Ishak Muhammad Jabi, Rohaniawan Kristen Protesten/Wakil Ketua FKUB Pdt. Rudi Siswanto, dan rohaniawan Katolik Theodorus Noka.
Kegiatan itu dihadiri lebih kurang 120 peserta dari pengurus dan anggota organisasi pemuda dan masyarakat di Manggarai Barat. Antara lain GP Ansor, Pemuda Katolik, FKUB, KNPI, IKA PMII, Pemuda Muhammadiyah, KAHMI, PMKRI, GMNI, Himpunan Pramuwisata, Pimpinan Flatform Limbah Indonesia, Pemuda Manggarai Barat Bersatu, dan mahasiswa/mahasiswa se-Manggarai Barat.