Gumoh pada Bayi, Kapan Perlu Diwaspadai Sebagai GERD?

Regurgitasi atau gumoh berlebihan, bayi rewel, atau tangisan berkepanjangan tidak selalu menandakan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). (Foto: Ilustrasi/TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta- Gumoh pada bayi kerap membuat orang tua panik. Setiap kali ASI atau susu formula keluar kembali dari mulut bayi setelah menyusu, tak sedikit orang tua yang langsung mengaitkannya dengan gangguan pencernaan serius. Padahal, secara medis, gumoh pada bayi—atau yang dikenal sebagai regurgitasi—merupakan kondisi fisiologis yang umum terjadi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan.

Berdasarkan data klinis, sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan. Kondisi ini umumnya akan berkurang secara bertahap hingga usia 12 bulan. Bayi dengan kondisi ini sering disebut sebagai happy spitter—tetap ceria, menyusu dengan baik, dan tumbuh sesuai usia meskipun sering gumoh.

Sebaliknya, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi yang jauh lebih jarang, dengan prevalensi sekitar 3–8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara terlalu sering atau berkepanjangan hingga menimbulkan peradangan dan komplikasi.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, menegaskan bahwa tantangan terbesar di lapangan adalah membedakan regurgitasi fisiologis dengan Gastroesophageal Reflux Disease.

“Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang,” ujar Prof. Badriul dalam Media Gathering & Health Talk bertema “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” yang diselenggarakan oleh RS Premier Bintaro pada Rabu, 4 Februari 2026, di Jakarta.

GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” jelasnya. 

Gumoh Berlebihan Tak Selalu Berarti GERD

Menurut Prof. Badriul, regurgitasi berlebihan, bayi rewel, atau tangisan berkepanjangan tidak selalu menandakan Gastroesophageal Reflux Disease. Kondisi tersebut juga dapat ditemukan pada bayi sehat. Oleh karena itu, diagnosis tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan frekuensi gumoh semata.

Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap alarm sign. Jika gumoh pada bayi disertai darah, berat badan tidak naik, nyeri hebat, atau berlangsung hingga usia di atas 12–18 bulan, maka perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan faktor lain, termasuk kelainan anatomi atau kondisi medis tertentu.

“Secara normal, pada usia 12 bulan hanya sekitar 10 persen bayi yang masih gumoh, dan pada usia 18 bulan seharusnya sudah tidak ada. Kalau masih tinggi, itu harus dicari penyebab lain,” ujarnya.

Dampak Jangka Panjang GERD pada Anak

Dalam sesi tanya jawab, Prof. Badriul juga menjelaskan bahwa Gastroesophageal Reflux Disease  yang tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak pada tumbuh kembang anak. Kerusakan dinding esofagus akibat paparan asam lambung yang berkepanjangan bisa menyebabkan nyeri saat makan, penolakan minum, hingga gangguan nutrisi. 

Gumoh yang mengarah pada GERD dan tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak pada tumbuh kembang anak (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)
Gumoh yang mengarah pada GERD dan tidak ditangani dengan tepat dapat berdampak pada tumbuh kembang anak (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)


“Kalau reflux disease merusak esofagus, dampaknya asupan makan berkurang, bisa terjadi perdarahan kecil, anemia, bahkan mengganggu tumbuh kembang anak,” ungkapnya.

Meski risiko perubahan sel esofagus seperti pada orang dewasa sangat jarang terjadi pada anak, Prof. Badriul menyebut kondisi ini tetap menjadi peringatan agar Gastroesophageal Reflux Disease tidak diabaikan.

Penanganan Awal Gumoh

Penatalaksanaan awal gumoh pada bayi dan GER umumnya bersifat non-farmakologis. Langkah-langkah yang dianjurkan meliputi edukasi orang tua, melanjutkan ASI, menghindari overfeeding, serta pengaturan posisi bayi setelah menyusu.

Prof. Badriul menyarankan agar bayi disendawakan dan diposisikan dengan sudut sekitar 60 derajat setelah minum, serta menghindari posisi terlalu tegak atau terlalu datar. Pada kasus tertentu, penggunaan susu formula yang ditebalkan dapat dipertimbangkan. Pemberian obat, tegasnya, bukan terapi lini pertama dan hanya diberikan pada kasus Gastroesophageal Reflux Disease yang terkonfirmasi.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) dan Chief Executive Officer (CEO) RS Premier Bintaro. dr. Relia Sari, MARS, dalam Media Gathering & Health Talk “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” di Jakarta, Rabu (4/2). (Foto: TRENDS.co.id)
Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) dan Chief Executive Officer (CEO) RS Premier Bintaro. dr. Relia Sari, MARS, dalam Media Gathering & Health Talk “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” di Jakarta, Rabu (4/2). (Foto: TRENDS.co.id)


Melalui kegiatan ini, RS Premier Bintaro menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan anak berbasis bukti ilmiah serta memperkuat kolaborasi dengan media guna meningkatkan literasi kesehatan orang tua Indonesia.

Berita Terkait :