62 Kasus Super Flu di Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama Ingatkan 3 Langkah Utama

Kapan harus minum obat flu antiviral untuk mengatasi gejala super flu? (Foto: Ilustrasi AI/TRENDS.co.id)
sosmed-whatsapp-green
Trends.co.id Hadir di WhatsApp Channel
Follow

TRENDS.co.id, Jakarta – Awal 2026 dibuka dengan temuan 62 kasus super flu di Indonesia. Virus influenza A H3N2 subclade K terdeteksi di delapan provinsi, seberapa serius risikonya bagi kesehatan publik?

Keberadaan virus influenza A H3N2 subclade K ini diumumkan oleh Kementerian Kesehatan pada 31 Desember 2025.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” ungkap Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine melalui siaran pers resmi.

Menurut Prima, situasi kasus influenza A H3N2 subclade K atau yang juga dikenal dengan super flu di Indonesia masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lain.

Adapun Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama melalui pesan tertulisnya menyampaikan, istilah super flu memang merujuk pada infeksi virus influenza A H3N2 subclade K. Virus ini bukan virus baru sepenuhnya.

“Super Flu yang sekarang banyak dibicarakan sebenarnya adalah penyakit flu akibat virus influenza A H3N2 sub clade K, yang sudah ada sejak beberapa waktu yang lalu,” tulis Prof. Tjandra.

Ia menjelaskan bahwa lonjakan kasus flu di Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat pada Oktober 2025 juga didominasi oleh H3N2. Bahkan, secara historis, dunia pernah mengalami lonjakan besar akibat H3N2 pada 1968, meski saat itu belum dikenal subclade K.

Mutasi dan Penyebaran Global H3N2 Subclade K

Virus H3N2 subclade K disebut telah mengalami tujuh kali mutasi. Sejak November 2025, World Health Organization menyatakan bahwa varian ini menyebar cepat dan mendominasi di sejumlah negara belahan bumi utara.

Penyebaran global inilah yang menjadi konteks penting munculnya kasus super flu di Indonesia, bukan kejadian yang berdiri sendiri atau terisolasi.

Gambaran Situasi Influenza di Amerika Serikat

Data terbaru hingga 30 Desember 2025 menunjukkan situasi flu yang serius di Amerika Serikat. Influenza berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi di 32 negara bagian, meningkat tajam dari 17 negara bagian pada pekan sebelumnya.

Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit melonjak menjadi 19.053 orang, hampir dua kali lipat dari minggu sebelumnya. Menurut Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 3.100 kematian terjadi akibat influenza musim ini, dengan peningkatan kematian pada anak.

“Data Amerika Serikat menunjukkan bahwa sebagian besar penyebab flu memang adalah virus H3N2, dan tentu bukan tidak mungkin yang sub clade K,” jelas Prof. Tjandra.

Langkah yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Untuk masyarakat luas, Prof. Tjandra menekankan tiga langkah utama.

Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, pengawasan khusus super flu di Indonesia juga perlu dilakukan di wilayah yang tengah terdampak bencana, terutama di Sumatera.. (Foto: Istimewa)
Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, pengawasan khusus super flu di Indonesia juga perlu dilakukan di wilayah yang tengah terdampak bencana, terutama di Sumatera.. (Foto: Istimewa)

Pertama, bila mengalami gejala flu, jaga kondisi tubuh dan gunakan masker agar tidak menularkan ke orang lain, serta beristirahat bila perlu.

Kedua, segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan bila gejala memberat, terutama jika dalam satu lingkungan terdapat beberapa orang dengan keluhan serupa secara mendadak.

Ketiga, terkait vaksinasi flu, vaksin dapat diberikan terutama pada lansia dan individu dengan komorbid berat sebagai langkah perlindungan tambahan.

Peran Pemerintah Menghadapi Super Flu

Bagi pemerintah, transparansi menjadi kunci. Prof. Tjandra menilai penting adanya informasi berkala kepada publik mengenai perkembangan virus H3N2 subclade K setelah temuan 62 kasus ini.

Pengawasan khusus juga perlu dilakukan di wilayah yang tengah terdampak bencana, terutama di Sumatera.

“Mudah-mudahan jangan sampai merebak Super Flu di sana,” tulisnya.

Apakah Super Flu Berpotensi Menjadi Pandemi?

Pertanyaan terbesar publik akhirnya bermuara ke satu hal: apakah super flu di Indonesia akan berkembang menjadi pandemi?

Prof. Tjandra menegaskan bahwa saat ini super flu “hanya” berpotensi menimbulkan gelombang flu yang lebih hebat dari tahun-tahun sebelumnya, dan belum mengarah ke pandemi.

Kemungkinan pandemi, menurutnya, bergantung pada tiga faktor:

  1. Apakah terjadi mutasi besar yang membuat virus benar-benar baru, seperti H1N1 pada 2009.
  2. Apakah tingkat penularan dan keparahan meningkat tajam.
  3. Apakah penularan antarnegara berlangsung luas dan masif.

Dengan pemahaman ilmiah yang utuh, publik diharapkan tetap waspada tanpa panik—karena kewaspadaan berbasis data selalu lebih kuat daripada ketakutan tanpa arah.

 

Berita Terkait :